Oleh: Daru TS
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖ ۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّاۤ اٰتٰٮهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَاۤ اٰتٰٮهَا ۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 7)
Nafkah wajib diberikan sesuai kemampuan, bukan standar orang lain. Allah tidak membebani di luar kapasitas manusia. Prinsip ini berlaku luas: ibadah, muamalah, dan kehidupan sehari-hari. Islam tidak menyamaratakan beban orang kaya dan miskin memiliki standar sesuai kondisi. Segala kewajiban dalam Islam disesuaikan dengan kapasitas individu.
Tidak perlu berutang atau memaksakan gaya hidup di luar kemampuan hanya untuk terlihat “layak”. Rezeki tiap orang sudah diatur, dan Allah Maha Mengetahui kondisi hamba-Nya. Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: “Jika aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim).
Penjabaran
Islam adalah agama yang penuh dengan keadilan dan keseimbangan. Salah satu prinsip penting yang diajarkan adalah tentang kewajiban memberi nafkah sesuai kemampuan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa setiap manusia memiliki kapasitas yang berbeda, sehingga beban yang diberikan pun tidak disamaratakan.
Dalam firman-Nya pada QS. At-Talaq ayat 7, Allah memerintahkan agar orang yang memiliki kelapangan rezeki memberi nafkah sesuai keluasannya. Sementara itu, mereka yang dalam kondisi sempit tetap diwajibkan memberi, namun sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memahami realitas kehidupan manusia yang beragam.
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa kewajiban dalam Islam tidak bersifat memberatkan. Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Prinsip ini memberikan ketenangan bagi setiap Muslim bahwa apa yang dituntut darinya selalu sejalan dengan kapasitas yang dimiliki.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ini sangat relevan. Banyak orang merasa terbebani karena membandingkan diri dengan standar orang lain. Padahal, Islam justru melarang sikap demikian. Setiap individu memiliki ujian dan rezeki yang berbeda, sehingga ukuran keberhasilan tidak bisa diseragamkan.
Memberi nafkah bukan sekadar kewajiban materi, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Ketika seseorang menunaikan kewajiban sesuai kemampuannya, maka ia telah menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan. Hal ini lebih bernilai daripada memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi sosial.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan prinsip ini dalam sabdanya: “Jika aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian.” Hadis ini memperkuat bahwa Islam adalah agama yang realistis dan tidak memberatkan umatnya.
Dalam konteks modern, banyak orang terjebak dalam gaya hidup konsumtif. Mereka merasa harus tampil “layak” di mata orang lain, meskipun harus berutang atau memaksakan kondisi finansial. Padahal, Islam mengajarkan kesederhanaan dan kejujuran dalam menjalani kehidupan.
Memahami konsep rezeki dalam Islam juga sangat penting. Rezeki bukan hanya soal jumlah, tetapi juga keberkahan. Harta yang sedikit namun halal dan penuh keberkahan jauh lebih bernilai dibandingkan harta melimpah yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.
Selain itu, ayat ini juga membawa harapan besar. Allah menjanjikan bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan. Ini menjadi penguat bagi siapa saja yang sedang berada dalam kondisi sempit agar tetap bersabar dan tidak putus asa.
Akhirnya, prinsip nafkah sesuai kemampuan mengajarkan kita untuk hidup lebih bijak, realistis, dan penuh syukur. Tidak perlu memaksakan diri atau merasa rendah diri. Jalani kehidupan sesuai kapasitas, dan percayalah bahwa Allah Maha Mengetahui kebutuhan setiap hamba-Nya.
Semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, diberikan kesehatan lahir dan batin, rezeki yang halal dan berkah, serta dimudahkan dalam setiap urusan dunia dan akhirat.









