Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Ayat ini mengandung hikmah:
- Pentingnya peran orang tua sebagai pendidik utama
- Keluarga harus dibangun atas dasar iman, bukan hanya materi
- Dakwah dimulai dari diri sendiri dan keluarga
- Disiplin dalam ibadah sejak dini sangat penting
- Mengabaikan pendidikan agama keluarga adalah bentuk kelalaian besar.
Menjaga keluarga dari api neraka dilakukan melalui pendidikan iman, ibadah, dan akhlak. Setiap pemimpin (termasuk orang tua) akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya…” (HR. Bukhari no. 7138, Muslim no. 1829)
Penjabaran
Allah SWT memberi peringatan tegas kepada orang beriman melalui QS At-Tahrim ayat 6 agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Ayat ini menjadi dasar penting tentang tanggung jawab besar setiap Muslim dalam membina rumah tangga yang taat kepada Allah.
Firman Allah menyebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” Pesan ini menunjukkan bahwa keselamatan akhirat tidak datang otomatis, tetapi harus diperjuangkan melalui pendidikan, teladan, dan pembiasaan amal saleh di dalam keluarga.
Ayat tersebut menempatkan orang tua sebagai pendidik utama dalam rumah tangga. Anak pertama kali belajar akhlak, ibadah, cara berbicara, dan nilai kehidupan dari ayah serta ibunya sebelum mengenal lingkungan luar.
Karena itu, peran orang tua dalam Islam tidak sebatas memenuhi kebutuhan materi. Makanan, pakaian, rumah, dan sekolah penting, tetapi kebutuhan ruhani jauh lebih penting karena menentukan masa depan anak di dunia dan akhirat.
Menjaga keluarga dari api neraka dilakukan dengan menanamkan iman sejak dini. Orang tua perlu mengenalkan tauhid, mengajarkan siapa Allah, menanamkan cinta kepada Rasulullah ﷺ, serta membiasakan anak mengenal Al-Qur’an dan doa harian.
Selain iman, ibadah juga harus dibangun dengan disiplin yang konsisten. Anak perlu dibiasakan shalat tepat waktu, berpuasa sesuai kemampuan, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu agar tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan agama.
Akhlak menjadi benteng penting dalam kehidupan keluarga Muslim. Orang tua wajib mencontohkan kejujuran, kesabaran, amanah, sopan santun, serta adab kepada sesama karena anak lebih cepat meniru perbuatan daripada nasihat panjang.
QS At-Tahrim ayat 6 juga mengajarkan bahwa dakwah dimulai dari rumah. Sebelum sibuk menasihati orang lain, seorang Muslim harus lebih dulu memperbaiki diri, pasangan, dan anak-anak agar rumah menjadi pusat kebaikan.
Mengabaikan pendidikan agama keluarga termasuk kelalaian besar. Banyak orang bekerja keras mengejar harta, tetapi lupa membimbing anak sehingga tumbuh tanpa arah, jauh dari ibadah, dan lemah akhlaknya.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini menegaskan bahwa ayah, ibu, dan setiap kepala keluarga akan dimintai jawaban atas amanah rumah tangga, sehingga menjaga keluarga dalam Islam harus dimulai hari ini juga.









