• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

KAJIAN ISLAM: Ketika Keluarga Menjadi Ujian Iman, Memahami Hikmah QS At-Taghabun Ayat 14 dalam Kehidupan Modern

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
9 April 2026
KAJIAN ISLAM: Ketika Keluarga Menjadi Ujian Iman, Memahami Hikmah QS At-Taghabun Ayat 14 dalam Kehidupan Modern

Ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: Daru TS

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْۤا  اِنَّ  مِنْ  اَزْوَا جِكُمْ  وَاَ وْلَا دِكُمْ  عَدُوًّا  لَّكُمْ  فَا حْذَرُوْهُمْ  ۚ وَاِ نْ  تَعْفُوْا  وَتَصْفَحُوْا  وَتَغْفِرُوْا  فَاِ نَّ  اللّٰهَ  غَفُوْرٌ  رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 14).

Ayat ini bukan menyuruh membenci keluarga, tapi mengingatkan bahwa keluarga bisa jadi ujian terbesar. Maka perlu hikmah, ketegasan, dan kasih sayang sekaligus.

Hubungan keluarga (termasuk pasangan) bisa menjadi ujian terbesar jika tidak diarahkan ke ketaatan. Keluarga adalah ujian (fitnah), bisa jadi sebab pahala besar tapi juga bisa jadi penghalang ibadah. Dari Aisyah binti Abu Bakar: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya…” (HR. Tirmidzi, shahih)

Penjabaran

Allah SWT mengingatkan kaum beriman melalui firman-Nya dalam QS At-Taghabun ayat 14 bahwa sebagian istri dan anak dapat menjadi ujian bagi keimanan seseorang. Ayat ini sering disalahpahami seolah Islam mengajarkan kecurigaan terhadap keluarga. Padahal, pesan utamanya justru mengajarkan kewaspadaan spiritual agar cinta kepada keluarga tidak menggeser ketaatan kepada Allah. Islam menempatkan keluarga sebagai amanah besar yang harus dikelola dengan iman, hikmah, dan tanggung jawab.

Dalam kehidupan nyata, keluarga merupakan ruang paling dekat dengan hati manusia. Di sanalah cinta tumbuh, harapan dibangun, sekaligus ujian datang tanpa disadari. Ketika seseorang terlalu menuruti keinginan pasangan atau anak hingga meninggalkan kewajiban agama, di situlah makna “musuh” dalam ayat ini menjadi relevan. Musuh yang dimaksud bukanlah kebencian personal, melainkan kondisi yang berpotensi menjauhkan seorang mukmin dari jalan ketaatan.

Islam memandang ujian keluarga sebagai bagian dari proses penyucian iman. Banyak orang mampu bersabar menghadapi masalah di luar rumah, tetapi justru lemah ketika diuji oleh orang yang paling dicintainya. Tekanan ekonomi keluarga, tuntutan gaya hidup, atau keinginan duniawi sering kali menjadi sebab seseorang mengabaikan shalat, kejujuran, atau prinsip halal dan haram. Karena itu, Allah memerintahkan kaum beriman untuk bersikap waspada tanpa kehilangan kasih sayang.

Ayat ini juga menegaskan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan. Setelah peringatan agar berhati-hati, Allah langsung memerintahkan untuk memaafkan, menyantuni, dan mengampuni keluarga. Ini menunjukkan bahwa solusi Islam bukanlah menjauh atau memutus hubungan, melainkan memperbaiki arah keluarga dengan akhlak mulia. Sikap pemaaf justru menjadi kunci menjaga keharmonisan rumah tangga sekaligus menjaga iman.

Konsep keluarga sebagai “fitnah” dalam Islam berarti ujian, bukan keburukan. Keluarga dapat menjadi sumber pahala besar ketika anggota keluarga saling mengingatkan dalam kebaikan. Sebaliknya, keluarga juga bisa menjadi penghalang ibadah jika hubungan dibangun hanya atas dasar kepentingan dunia. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu menjadikan rumah sebagai pusat pendidikan iman, bukan sekadar tempat memenuhi kebutuhan materi.

Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik dalam memperlakukan keluarga. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha diriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Hadis ini menegaskan bahwa kualitas keimanan seseorang tercermin dari cara ia memperlakukan orang terdekatnya. Kebaikan kepada keluarga bukan hanya bentuk kasih sayang, tetapi juga ibadah yang bernilai tinggi.

Dalam konteks kehidupan modern, ujian keluarga semakin kompleks. Media sosial, tekanan ekonomi, dan perubahan gaya hidup sering memengaruhi nilai-nilai rumah tangga. Tidak sedikit orang yang bekerja tanpa batas waktu demi keluarga, namun justru kehilangan waktu ibadah dan kedekatan spiritual. Islam mengajarkan keseimbangan: mencari nafkah adalah ibadah, tetapi tidak boleh mengorbankan hubungan dengan Allah.

Membangun keluarga yang selamat dari ujian iman membutuhkan kepemimpinan spiritual dalam rumah tangga. Orang tua perlu menjadi teladan, bukan hanya pemberi nasihat. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua menjaga shalat, kejujuran, dan kesederhanaan, nilai tersebut akan tertanam kuat dalam jiwa keluarga tanpa banyak kata.

Selain itu, komunikasi yang dilandasi iman menjadi fondasi penting. Nasihat yang lembut lebih mudah diterima dibandingkan kemarahan. Islam menekankan dialog, doa, dan kesabaran dalam membimbing keluarga. Ketika konflik muncul, seorang mukmin dianjurkan memilih jalan memaafkan karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang meneladani sifat tersebut.

Pada akhirnya, QS At-Taghabun ayat 14 mengajarkan bahwa keluarga bukan sekadar sumber kebahagiaan dunia, tetapi juga ladang ujian menuju akhirat. Cinta kepada keluarga harus menguatkan iman, bukan melemahkannya. Dengan hikmah, ketegasan, dan kasih sayang, keluarga dapat berubah dari potensi ujian menjadi jalan menuju ridha Allah dan kebahagiaan yang hakiki.***

Tags: IslampediaKajian islamkeluarga
Share6Tweet4Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Kekuasaan Allah Tak Terbendung, Manusia Wajib Berlindung kepada-Nya
Islampedia

Kekuasaan Mutlak Allah atas Langit dan Bumi

...

Read moreDetails
​Seni Menjadi Manusia: Antara Mahakarya Rupa dan Kedalaman Jiwa 

Kebangkitan Manusia dari Kubur, Bukti Kekuasaan Allah

Golongan Jin dalam Al-Qur'an, Ada yang Saleh dan Menyimpang

Golongan Jin dalam Al-Qur’an, Ada yang Saleh dan Menyimpang

Bahaya Meminta Perlindungan kepada Jin dalam Islam

Bahaya Meminta Perlindungan kepada Jin dalam Islam

Adab Berjalan dan Berbicara dalam Islam, Cerminan Akhlak Mulia

Adab Berjalan dan Berbicara dalam Islam, Cerminan Akhlak Mulia

Tanda Kebesaran Allah dalam Penciptaan Langit dan Bumi

Next Post
Honda Jazz GR Hybrid Tampil Makin Kece, Wara-wiri di Jepang & Singapura, Kapan Masuk ke Indonesia?

Honda Jazz GR Hybrid Tampil Makin Kece, Wara-wiri di Jepang & Singapura, Kapan Masuk ke Indonesia?

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.