Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ زَ يَّـنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَا بِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَ عْتَدْنَا لَهُمْ عَذَا بَ السَّعِيْرِ
“Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 5)
Bintang-bintang memiliki fungsi keindahan dan penjagaan langit dari gangguan setan. Setan yang mencoba mencuri berita langit akan diusir dengan meteor, serta memperingatkan manusia agar tidak mempercayai dukun dan ramalan.
Allah mengatur bahkan makhluk yang tidak terlihat seperti setan, menunjukan kekuasaan Allah atas makhluk gaib. Mengajarkan keyakinan terhadap perkara yang tidak terlihat (ghaib) dan menguatkan iman kepada hal gaib.
Dari Aisyah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Para malaikat turun ke awan dan membicarakan perkara yang telah ditetapkan di langit, lalu setan mencuri dengar, kemudian mereka dilempari dengan bintang-bintang.” (HR. Sahih Bukhari no. 3210)
Penjabaran
Kekuasaan Allah atas makhluk gaib terlihat jelas dalam ayat Al-Qur’an yang menjelaskan penjagaan langit dari gangguan setan. Allah menunjukkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari aturan dan kuasa-Nya.
Dalam Surah Al-Mulk ayat 5, Allah menyebut langit dunia dihiasi dengan bintang-bintang yang indah. Selain menjadi hiasan, bintang juga berfungsi sebagai alat pelempar bagi setan yang mencoba mencuri berita langit.
Ayat ini menegaskan bahwa ciptaan Allah memiliki hikmah besar dan tidak diciptakan sia-sia. Keindahan alam semesta selalu berjalan seiring dengan fungsi yang bermanfaat.
Setan adalah makhluk gaib yang sering berusaha mengganggu manusia dengan tipu daya. Namun mereka tetap makhluk lemah karena seluruh geraknya berada dalam pengawasan Allah.
Ketika setan mencoba mendengar kabar dari langit, Allah mengusir mereka dengan meteor atau semburan api. Hal itu menjadi bukti bahwa langit berada dalam penjagaan yang sangat kuat.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan perkara ini dalam hadis riwayat Bukhari. Malaikat berbicara tentang ketetapan Allah, lalu setan berusaha mencuri dengar dan langsung dilempari bintang-bintang.
Peristiwa tersebut memberi pelajaran bahwa dunia gaib itu nyata adanya. Meski manusia tidak melihatnya, Allah telah mengabarkan melalui wahyu dan sabda Nabi.
Karena itu, seorang Muslim wajib beriman kepada hal gaib sebagai bagian dari rukun iman. Keyakinan ini akan membuat hati lebih tunduk kepada kebesaran Allah.
Ayat ini juga menjadi peringatan agar manusia tidak mudah percaya kepada dukun atau peramal. Informasi yang mereka sampaikan sering berasal dari kebohongan yang dicampur sedikit berita curian.
Islam mengajarkan agar umat mencari petunjuk dari Al-Qur’an dan sunnah, bukan dari ramalan. Jalan keselamatan selalu berada pada ilmu yang benar dan sumber yang sahih.
Saat memandang bintang di malam hari, manusia seharusnya merenungi kebesaran penciptanya. Langit yang luas itu dijaga langsung oleh Allah dengan sistem yang sempurna.
Semakin seseorang memahami kekuasaan Allah atas makhluk gaib, semakin kuat pula imannya. Hati akan sadar bahwa hanya Allah tempat bergantung dan memohon perlindungan.***









