BERTUAHPOS.COM — Al-Qur’an menyimpan peringatan keras bagi mereka yang menunda sujud dan meremehkan seruan salat selama hidup di dunia. Kajian Islam atas QS. Al-Qalam ayat 42-43 ini relevan untuk siapa saja yang masih menganggap ibadah sebagai urusan yang bisa ditunda.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗ وَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سٰلِمُوْنَ
“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu, pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).” (QS. Al-Qalam 68: Ayat 42-43).
Ayat ini menggambarkan satu momen dahsyat di hari kiamat, ketika seluruh manusia diseru untuk bersujud kepada Allah. Orang-orang beriman mampu melakukannya, sementara orang-orang munafik dan pendusta agama justru tak berdaya.
Ketidakmampuan mereka bersujud bukan disebabkan cacat fisik semata, melainkan bentuk hukuman dan kehinaan yang Allah timpakan secara langsung. Tubuh mereka kaku, pandangan tertunduk, dan kehinaan menyelimuti wajah-wajah mereka di hadapan seluruh makhluk.
Rasulullah ﷺ memperkuat gambaran ini melalui sabdanya: “Rabb kita menyingkapkan betis-Nya, lalu setiap mukmin laki-laki dan perempuan bersujud kepada-Nya. Tinggallah orang yang dahulu bersujud karena riya’ dan sum’ah. Ia ingin bersujud, tetapi punggungnya menjadi satu tulang yang kaku sehingga tidak dapat bersujud.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 4919; HR. Sahih Muslim no. 183).
Hadis ini memperlihatkan bahwa ancaman tersebut tidak hanya tertuju pada mereka yang terang-terangan ingkar. Mereka yang bersujud dengan niat pamer atau sekadar ingin dipuji pun termasuk dalam golongan yang kehilangan kemampuan itu di akhirat.
Yang membuat ayat ini semakin menggetarkan adalah kenyataan bahwa semua orang itu dahulunya pernah mendengar azan, membaca Al-Qur’an, dan menerima seruan salat. Mereka menolak, menunda, atau meremehkannya ketika tubuh masih sehat dan waktu masih terbuka lebar.
Inilah peringatan nyata agar setiap Muslim tidak menjadikan kesibukan, kelelahan, atau kondisi sebagai alasan menunda ibadah. Kesempatan yang tersedia hari ini belum tentu hadir kembali esok hari.
Sujud adalah tanda kerendahan hati seorang hamba di hadapan Penciptanya, dan mereka yang enggan melakukannya di dunia akan menanggung akibatnya di akhirat. Allah memberikan waktu dan kesempatan, tetapi keduanya memiliki batas yang tidak seorang pun tahu kapan berakhir.
Maka jadikan setiap sujud sebagai kesadaran penuh, bukan rutinitas kosong yang tergesa-gesa. Sebab satu sujud yang tulus hari ini jauh lebih bernilai daripada penyesalan tanpa guna di hari ketika sujud tak lagi bisa dilakukan.









