BERTUAHPOS.COM — Iman dan tawakal kepada Allah adalah dua pernyataan sekaligus komitmen yang Allah perintahkan untuk diucapkan dengan penuh keyakinan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 29: “Katakanlah, Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.”
Ayat ini turun sebagai respons terhadap kaum yang meragukan dan menentang dakwah Rasulullah SAW, namun pesannya menembus zaman dan tetap relevan bagi setiap Muslim di mana pun berada. Allah mengajarkan bahwa dalam menghadapi penolakan dan tekanan, jawaban terbaik seorang mukmin adalah mempertegas keimanan dan menyerahkan seluruh urusan hanya kepada-Nya.
Iman bukan sekadar pengakuan lisan yang mudah diucapkan tanpa beban. Ia adalah keyakinan yang berakar di dalam hati, tumbuh melalui ucapan, dan berbuah dalam setiap tindakan nyata sehari-hari.
Tawakal pun demikian, bukan kata yang cukup dilafalkan saat situasi terasa berat lalu dilupakan ketika keadaan membaik. Tawakal adalah sikap hati yang secara konsisten menyerahkan hasil dari setiap usaha kepada Allah, sambil tetap menjalankan ikhtiar semaksimal tenaga.
Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi: “Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberi manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.” Hadis ini adalah penegasan bahwa kendali mutlak hanya berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia mana pun.
Pemahaman ini seharusnya membebaskan seorang Muslim dari ketakutan berlebihan terhadap makhluk dan ketergantungan yang salah kepada sesama manusia. Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa bahaya dan manfaat tidak bergerak tanpa izin Allah, hidupnya akan jauh lebih tenang dan terarah.
Kebenaran memang tidak selalu langsung diterima, bahkan orang yang paling teguh imannya pun sering dianggap keliru oleh lingkungan sekitarnya. Namun ayat ini menegaskan bahwa waktu akan menjadi saksi, dan Allah sendiri yang akan menampakkan siapa sesungguhnya yang berjalan di atas jalan yang lurus.
Nama Allah yang dipilih dalam ayat ini adalah Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, bukan nama yang menunjukkan kekuatan atau keperkasaan semata. Ini mengisyaratkan bahwa tawakal kepada Allah bukan didasari oleh rasa takut belaka, melainkan oleh kepercayaan penuh kepada kasih sayang-Nya yang tak pernah berhenti mengalir.
Orang yang benar-benar beriman tidak akan mudah goyah meskipun tekanan datang dari berbagai arah, karena sandarannya bukan pada kekuatan diri sendiri yang terbatas. Ia berdiri kokoh bukan karena tidak merasakan beban, tetapi karena tahu kepada siapa beban itu seharusnya diserahkan.
Maka jadikanlah kalimat “aamannaa bihi wa ‘alaihi tawakkalnaa” bukan sekadar rangkaian kata Arab yang indah didengar, tetapi sebuah ikrar harian yang mengubah cara pandang dan cara hidup. Seorang mukmin yang sungguh-sungguh beriman dan bertawakal akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh dunia dan seluruh isinya.***









