Ikhtiar dan tawakal bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua pilar yang Allah perintahkan untuk ditegakkan bersamaan dalam menjalani hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 15:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَ رْضَ ذَلُوْلًا فَا مْشُوْا فِيْ مَنَا كِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖ ۗ وَاِ لَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”
Ayat tersebut mengandung perintah yang sangat tegas untuk bergerak, menjelajah, dan berusaha mencari rezeki di muka bumi. Allah tidak memerintahkan manusia untuk duduk berpangku tangan sambil menunggu rezeki jatuh dari langit.
Islam adalah agama yang memuliakan kerja keras dan mengecam kemalasan yang dibungkus dengan alasan kepasrahan. Rasulullah SAW bersabda dengan tegas dalam riwayat Imam Bukhari: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.”
Para sahabat Nabi bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga pelaku usaha yang tangguh dan penjelajah perdagangan lintas negeri. Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai saudagar kelas dunia yang hartanya tidak menghalanginya untuk menjadi salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga.
Bumi yang Allah ciptakan bukan sekadar hamparan tanah, melainkan ladang peluang yang sengaja Allah tundukkan agar manusia dapat mengolah dan memanfaatkannya. Gunung yang bisa didaki, laut yang bisa dilayari, dan tanah yang bisa ditanami semuanya adalah undangan terbuka dari Sang Pencipta untuk berikhtiar.
Hasan Al-Bashri, ulama besar tabi’in, pernah mengucapkan kalimat yang terus relevan sepanjang masa: “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.” Pesan itu bukan perintah untuk cinta dunia, melainkan dorongan untuk menjalani keduanya secara seimbang dan sungguh-sungguh.
Tawakal yang sesungguhnya lahir setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal, bukan sebelum usaha dimulai. Seorang petani yang menanam benih, menyiram, dan merawat tanaman lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah—itulah gambaran tawakal yang diajarkan Islam.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan tawakal sebagai pembenaran untuk tidak berusaha, seolah berserah diri identik dengan berdiam diri. Padahal Nabi ﷺ sendiri memerintahkan seorang sahabat untuk mengikat untanya terlebih dahulu sebelum bertawakal kepada Allah.
Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban yang Allah tegaskan bersamaan dengan perintah menjelajahi bumi. Akhir ayat Al-Mulk 15 mengingatkan bahwa manusia akan kembali dan dibangkitkan di hadapan-Nya, sebuah pengingat agar setiap langkah ikhtiar tidak melampaui batas yang Allah tetapkan.
Perjalanan mencari ilmu, perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, dan eksplorasi peluang di berbagai bidang semuanya tercakup dalam semangat ayat ini. Islam tidak pernah mengurung umatnya dalam zona nyaman, justru mendorong mereka untuk beranjak dan memberi manfaat lebih luas.
Keseimbangan antara usaha dan kepasrahan itulah yang membedakan seorang Muslim dari dua kutub ekstrem: mereka yang terlalu ambisius hingga melupakan Allah, dan mereka yang terlalu pasif hingga meninggalkan tanggung jawab. Titik tengah itu adalah tempat di mana ketenangan sejati ditemukan.
Maka jadikanlah setiap pagi sebagai momen untuk menjelajahi bumi Allah dengan penuh semangat, sambil menjaga hati tetap terikat pada keyakinan bahwa rezeki dan hasil akhir sepenuhnya berada dalam ketetapan-Nya. Itulah jiwa seorang Muslim yang utuh—bergerak seperti tak kenal lelah, namun bersandar hanya kepada Allah.









