Oleh: Daru TS
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَاۤ اَمْوَا لُـكُمْ وَاَ وْلَا دُكُمْ فِتْنَةٌ ۗ وَا للّٰهُ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 15)
Segala kenikmatan dunia adalah ujian bukan semata-mata tanda keberuntungan. Harta dan anak bukan tujuan akhir melainkan sarana untuk beribadah.
Tidak berlebihan mencintai dunia, cinta tetap ada tapi tidak melalaikan dari Allah. Bijak dalam mengelola harta digunakan untuk kebaikan, sedekah, dan ibadah.
Mendidik anak sebagai amanah bukan sekadar kebanggaan, tetapi tanggung jawab. Sabar dalam menghadapi ujian karena ujian adalah tanda kasih sayang Allah.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya anak itu dapat menyebabkan seseorang menjadi penakut, bakhil (kikir), dan sedih.” (HR. Ahmad – hasan/shahih).
Penjabaran
Harta dan anak sering kali dianggap sebagai simbol keberhasilan hidup. Banyak orang mengukur kesuksesan dari seberapa besar kekayaan yang dimiliki atau seberapa hebat pencapaian anak-anaknya. Padahal dalam perspektif Islam, keduanya justru menjadi alat uji yang menentukan kualitas keimanan seseorang.
Islam tidak melarang umatnya mencintai harta dan anak. Bahkan, rasa cinta tersebut adalah fitrah yang diberikan Allah. Namun, Islam mengatur agar cinta itu tidak berlebihan hingga melalaikan kewajiban utama, yaitu beribadah kepada Allah. Ketika cinta kepada dunia mengalahkan cinta kepada Allah, di situlah ujian berubah menjadi bencana spiritual.
Mengelola harta dengan bijak menjadi salah satu bentuk keberhasilan dalam menghadapi ujian. Seorang Muslim dituntut untuk tidak hanya mencari harta, tetapi juga menggunakannya di jalan yang benar. Sedekah, zakat, dan berbagai amal sosial menjadi bukti bahwa harta tidak menguasai hati, melainkan justru menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Begitu pula dengan anak, Islam memandang mereka sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan. Tugas orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membentuk akhlak dan keimanan anak. Pendidikan yang baik adalah investasi akhirat, bukan sekadar persiapan dunia.
Namun, realitas menunjukkan bahwa anak juga bisa menjadi sumber ujian yang berat. Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya anak itu dapat menyebabkan seseorang menjadi penakut, bakhil (kikir), dan sedih.” (HR. Ahmad). Hadis ini menggambarkan bagaimana rasa cinta yang tidak terkontrol dapat melemahkan karakter seseorang.
Ujian dalam bentuk harta dan anak sering kali hadir dengan cara yang tidak disadari. Ketika seseorang menjadi terlalu sibuk mencari nafkah hingga meninggalkan ibadah, atau terlalu memanjakan anak hingga melupakan pendidikan agama, di situlah ujian sedang berlangsung tanpa disadari.
Kesabaran menjadi kunci utama dalam menghadapi setiap ujian. Dalam Islam, ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bentuk kasih sayang-Nya. Allah ingin melihat siapa di antara hamba-Nya yang tetap taat dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kebahagiaan maupun kesulitan.
Pada akhirnya, seorang Muslim harus mampu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Harta dan anak adalah titipan yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Jika dikelola dengan iman dan ketakwaan, keduanya akan menjadi jalan menuju pahala besar yang telah Allah janjikan.***









