Allah SWT telah menyebutkan delapan malaikat pemikul Arsy dalam Al-Qur’an sebagai gambaran nyata tentang kebesaran dan kemegahan-Nya pada Hari Kiamat. Pengetahuan tentang malaikat pemikul Arsy menjadi bagian penting dari aqidah Islam yang memperkuat keimanan umat terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Allah SWT berfirman:
وَّا لْمَلَكُ عَلٰۤى اَرْجَآئِهَا ۗ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمٰنِيَةٌ
“Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al-Haqqah 69: 17).
Ayat ini menggambarkan dengan jelas bagaimana para makhluk surgawi yang perkasa bersatu dalam satu tugas mulia menjunjung singgasana Ilahi.
Ketika langit hancur berantakan dan dunia ini berakhir, para malaikat tetap menjalankan perintah Allah dengan sepenuh hati dan ketakwaan. Kehadiran delapan malaikat yang menjunjung Arsy memperlihatkan bahwa alam semesta seluruhnya masih di bawah kendali mutlak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jika satu malaikat pemikul Arsy saja memiliki ukuran dan kekuatan yang luar biasa melampaui nalar manusia, maka betapa agungnya Arsy Allah yang dipikul oleh delapan malaikat tersebut. Besarnya Arsy merupakan cerminan nyata dari kebesaran dan keagungan sang Pencipta yang tidak tertandingi di seluruh alam semesta.
Kehancuran langit, kehadiran para malaikat, dan peristiwa pemikulan Arsy adalah realitas yang pasti terjadi pada Hari Pembalasan, bukan sekadar metafora atau simbol belaka. Keyakinan akan kepastian peristiwa ini harus membangkitkan kesadaran setiap muslim untuk hidup dengan bertanggung jawab dan penuh kekhawatiran kepada Allah.
Meskipun memiliki kekuatan dahsyat yang melampaui kemampuan pikiran manusia, para malaikat tidak pernah menunjukkan kesombongan atau keangkuhan sedikitpun. Mereka selalu bertasbih memuji Tuhan mereka, beriman dengan sepenuh hati, dan menjalankan setiap perintah Allah dengan tunduk dan patuh.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Para malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.” Hadis ini menunjukkan bahwa ketaatan malaikat kepada Allah tidak hanya tercermin dalam tindakan, tetapi juga dalam keyakinan dan doa mereka untuk umat manusia.
Tasbih para malaikat merupakan bentuk puja-puji yang terus-menerus kepada Allah tanpa henti dan tanpa lelah selamanya. Mereka memahami bahwa pengakuan terhadap keagungan Tuhan adalah bentuk ketaatan tertinggi yang dapat mereka persembahkan sebagai makhluk pilihan Allah.
Pemohonoan ampun yang disampaikan malaikat kepada Allah untuk umat beriman menunjukkan rahmat dan belas kasihan mereka terhadap manusia di bumi. Kasih sayang ini mendorong manusia untuk semakin meningkatkan ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, dan selalu berdoa memohon ampun kepada Allah atas setiap kesalahan.









