Oleh: Daru TS
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَا بًا شَدِيْدًا ۙ فَا تَّقُوا اللّٰهَ يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ ۛ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۛ قَدْ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكُمْ ذِكْرًا
“Allah menyediakan azab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal! (Yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 10)
Azab sebagai konsekuensi kedurhakaan, Allah telah menyiapkan azab keras bagi orang yang membangkang. Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengambil pelajaran dan bertakwa. Takwa adalah kunci keselamatan dari azab Allah. Kecerdasan sejati adalah ketaatan kepada Allah, bukan sekadar ilmu dunia.*
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, peringatan Allah harus dijadikan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari. Dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama. Rasa takut (khauf) dapat mendorong manusia untuk menjauhi maksiat.*
Dari Syaddad bin Aus, Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati…” (HR. Sunan Tirmidzi no. 2459 – hasan).
Penjabaran
Allah SWT memberi peringatan tegas dalam Al-Qur’an tentang akibat kedurhakaan manusia. Dalam Surah At-Talaq ayat 10, Allah menjelaskan bahwa Dia telah menyiapkan azab yang keras bagi orang-orang yang membangkang. Ayat ini menjadi pengingat serius bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat.
Firman Allah dalam QS At-Talaq ayat 10 berbunyi, “Allah menyediakan azab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal! (Yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.” Ayat ini mengandung pesan kuat tentang ancaman azab Allah sekaligus jalan keselamatan bagi orang beriman.
Islam mengajarkan bahwa azab Allah bukanlah bentuk kezaliman, melainkan balasan yang adil atas sikap durhaka, sombong, dan menolak kebenaran. Ketika manusia terus menerus melanggar perintah Allah tanpa taubat, maka ia sedang menjerumuskan dirinya sendiri. Karena itu, seorang muslim wajib takut kepada hukuman Allah agar tidak terjatuh dalam dosa yang berulang.
Dalam ayat tersebut, Allah juga menyeru ulul albab, yaitu orang-orang yang mempunyai akal sehat. Ini menunjukkan bahwa orang cerdas menurut Islam bukan hanya mereka yang pintar secara akademik atau sukses dalam urusan dunia. Kecerdasan sejati adalah kemampuan memahami kebenaran lalu tunduk kepada perintah Allah.
Banyak orang memiliki ilmu tinggi, jabatan besar, dan kekayaan melimpah, namun lalai terhadap ibadah. Dalam pandangan Islam, keberhasilan duniawi saja tidak cukup jika tidak diiringi iman dan takwa. Sebaliknya, orang sederhana yang taat kepada Allah bisa lebih mulia di sisi-Nya dibanding orang hebat yang gemar bermaksiat.
Takwa menjadi kunci utama keselamatan dari azab Allah. Takwa berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Orang yang bertakwa akan menjaga shalat, jujur dalam pekerjaan, menahan lisan dari ghibah, serta menjauhi kezaliman kepada sesama.
Allah juga menegaskan bahwa Dia telah menurunkan dzikr, yaitu peringatan berupa Al-Qur’an. Kitab suci ini bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup lengkap bagi manusia. Al-Qur’an membimbing urusan ibadah, keluarga, muamalah, akhlak, hingga cara menghadapi ujian kehidupan.
Ketika manusia menjauh dari Al-Qur’an, hidup sering kehilangan arah. Banyak kegelisahan muncul karena hati kosong dari petunjuk Allah. Sebaliknya, orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan lebih tenang, sabar, dan memiliki panduan jelas dalam mengambil keputusan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa orientasi seorang muslim bukan hanya dunia sementara, tetapi juga kehidupan akhirat yang kekal.
Karena itu, setiap muslim perlu menjadikan rasa takut kepada azab Allah sebagai pengingat untuk memperbaiki diri. Perbanyak taubat, tingkatkan ibadah, dan jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian. Inilah jalan orang berakal dalam Islam, yaitu hidup dalam takwa agar selamat dari azab Allah dan meraih rahmat-Nya.***









