BERTUAHPOS.COM — Salah satu tanda hati yang paling berbahaya dalam kajian Islam adalah ketika seseorang menolak kebenaran Al-Qur’an bukan karena tidak mendengarnya, melainkan karena memilih untuk tidak mau menerimanya. Sikap inilah yang diabadikan Allah dalam firman-Nya:
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَا لَ اَسَا طِيْرُ الْاَ وَّلِيْنَ
“Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, (Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu.” (QS. Al-Qalam 68: Ayat 15)
Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang kafir yang sombong dan keras hati ketika mendengar bacaan Al-Qur’an. Alih-alih tunduk dan merenungi isinya, mereka justru melontarkan tuduhan bahwa wahyu Allah tidak lebih dari kumpulan cerita usang yang tidak layak dipercaya.
Tuduhan semacam itu bukan lahir dari akal yang berpikir jernih, melainkan dari hati yang sudah terkunci oleh dosa dan kesombongan. Ketika lapisan kemaksiatan terus menumpuk di dalam hati, cahaya kebenaran tidak lagi mampu menembus dan menerangi bagian dalamnya.
Dalam kajian Islam, para ulama menjelaskan bahwa maksiat yang dilakukan secara terus-menerus memiliki efek yang sangat merusak bagi kepekaan spiritual seseorang. Hati yang seharusnya lembut dan mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, perlahan menjadi keras seperti batu yang tak lagi mampu menyerap air hujan.
Sebaliknya, hati yang bersih dan rutin dijaga dengan taubat serta istighfar akan mudah menerima Al-Qur’an sebagai petunjuk. Taubat bukan sekadar ritual lisan, tetapi proses aktif membersihkan jiwa dari segala kotoran yang menghalangi masuknya hidayah.
Yang lebih mengkhawatirkan, orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan ejekan sejatinya sedang membangun hujjah yang kelak akan memberatkan dirinya sendiri di hadapan Allah. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dengan sabdanya: “Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membela dirimu atau hujjah yang menyalahkanmu.” (HR. Sahih Muslim no. 223)
Hadis ini menjadi pengingat keras bahwa hubungan seseorang dengan Al-Qur’an tidak bisa setengah-setengah. Membacanya tanpa iman, tanpa perenungan, dan tanpa pengamalan tidak akan cukup untuk menjadikannya sebagai pembela di hari perhitungan.
Seorang mukmin sejati diperintahkan untuk mendengar dan membaca Al-Qur’an dengan penuh keimanan, ketundukan, dan pengagungan yang tulus. Bukan sekadar melantunkan huruf demi huruf, tetapi membiarkan setiap ayatnya meresap masuk ke dalam hati dan mengubah perilaku sehari-hari.
Maka sikap kita terhadap Al-Qur’an hari ini adalah cerminan dari kondisi hati kita yang sesungguhnya. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat yang selalu hadir, bukan kitab yang hanya dibuka saat musibah datang atau diletakkan sebagai pajangan di sudut rumah.









