BERTUAHPOS.COM — Kajian Islam tentang akhlak selalu relevan di setiap zaman, termasuk peringatan Allah SWT dalam QS Al-Qalam ayat 13 mengenai sifat-sifat tercela yang menempel pada orang yang menolak kebenaran. Ayat ini menjadi cermin bagi setiap Muslim untuk mengevaluasi diri, apakah akhlak yang tertanam dalam keseharian sudah mencerminkan nilai-nilai keimanan yang sesungguhnya.
Allah SWT berfirman:
عُتُلٍّ ۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍ
“…yang bertabiat kasar, selain itu juga terkenal kejahatannya”.(QS. Al-Qalam 68: Ayat 13)
Ayat ini menggambarkan sosok yang tidak hanya dikenal karena kekasaran sikapnya, tetapi juga karena keburukan yang sudah melekat pada dirinya di hadapan masyarakat. Dalam kajian Islam, label keburukan yang menempel pada seseorang bukan sekadar penilaian sosial, melainkan cerminan dari kondisi batin yang jauh dari hidayah Allah.
Akhlak orang yang menolak kebenaran memiliki ciri khas yang mudah dikenali: keras kepala, kasar dalam bertutur, dan sombong dalam bersikap. Sifat-sifat ini bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi penghalang masuknya cahaya iman ke dalam hati.
Kajian Islam menegaskan bahwa kemuliaan sejati seorang manusia bukan terletak pada banyaknya harta, tingginya keturunan, atau besarnya jabatan. Kemuliaan yang hakiki hanya bisa diraih melalui keteguhan iman dan keindahan akhlak yang terpancar dalam kehidupan sehari-hari.
Keras hati adalah penyakit spiritual yang perlahan menjauhkan seseorang dari hidayah Allah SWT. Ketika hati mengeras, nasihat tidak lagi terasa menusuk, ayat-ayat Al-Qur’an tidak lagi menggetarkan, dan kebenaran pun sulit untuk diterima.
Akhlak buruk dalam pandangan Islam sejatinya lebih berbahaya daripada kekurangan materi di dunia. Seseorang yang miskin harta tetapi mulia akhlaknya jauh lebih terhormat di sisi Allah dibandingkan orang yang berlimpah kekayaan namun hina dalam perilakunya.
Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang keras, kasar, sombong, dan angkuh.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 4918 dan Sahih Muslim no. 2853).
Jika orang fasik dikenal di tengah masyarakat karena keburukannya, maka sudah seharusnya seorang Muslim dikenal karena kejujuran, kelembutan, amanah, dan kasih sayang. Identitas seorang beriman bukan dibentuk oleh pengakuan lisan, melainkan oleh jejak akhlak yang ia tinggalkan dalam setiap interaksi.
Kajian Islam ini menjadi pengingat bahwa pembangunan diri seorang Muslim dimulai dari dalam, dari hati yang lembut, jiwa yang tunduk, dan lisan yang terjaga. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari sifat-sifat tercela dan menganugerahkan akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.









