BERTUAHPOS.COM — Air adalah anugerah paling mendasar yang Allah titipkan kepada manusia, namun justru menjadi nikmat yang paling jarang disyukuri karena hadir begitu mudah dan murah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 30: “Katakanlah (Muhammad), Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”
Pertanyaan dalam ayat tersebut bukan pertanyaan yang menunggu jawaban manusia, melainkan sebuah tantangan yang memperlihatkan ketidakberdayaan makhluk di hadapan kekuasaan Allah. Tidak ada satu pun teknologi atau kekuatan manusia yang mampu memunculkan mata air baru jika Allah telah memutuskan untuk menghilangkannya ke dalam perut bumi.
Air menopang seluruh rantai kehidupan di bumi tanpa terkecuali, dari tubuh manusia yang sebagian besarnya tersusun dari cairan, hingga tumbuhan yang layu tanpa siraman, hingga hewan yang binasa tanpa minuman. Ketika sumber air mengering, bukan hanya dahaga yang terasa, tetapi seluruh sistem kehidupan perlahan runtuh.
Sejarah peradaban membuktikan bahwa kota-kota besar yang pernah berjaya hancur bukan karena kalah perang, tetapi karena sumber airnya habis dan penghuninya terpaksa meninggalkan tempat itu selamanya. Kekeringan adalah salah satu cara Allah memperlihatkan bahwa kemewahan peradaban manusia berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh.
Air adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan digunakan dengan penuh tanggung jawab, bukan sumber daya yang bebas dihambur-hamburkan. Sumur yang mengering, sungai yang berhenti mengalir, dan hujan yang tak kunjung datang adalah tanda-tanda yang seharusnya membuat manusia segera mengoreksi sikapnya.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat konkret dalam menyikapi nikmat air ini. Beliau pernah menegur sahabatnya, Sa’ad, yang berwudhu dengan air secara berlebihan, lalu bersabda: “Jangan berlebih-lebihan.” Ketika Sa’ad bertanya apakah dalam penggunaan air pun ada batasan, Rasulullah ﷺ menjawab dengan tegas: “Ya, sekalipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa hemat air bukan sekadar anjuran lingkungan hidup modern, melainkan bagian dari adab Islam yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ lebih dari empat belas abad silam. Berlimpahnya air di sekitar seseorang bukan alasan untuk boros, justru sebaliknya menjadi ujian apakah ia bisa mengelola nikmat itu dengan bijak.
Krisis air bersih yang kini melanda berbagai wilayah di seluruh dunia seharusnya menjadi pengingat keras bahwa manusia telah terlalu lama mengabaikan pesan ayat ini. Pencemaran sungai, penebangan hutan yang merusak resapan air, dan eksploitasi air tanah secara berlebihan adalah bentuk nyata dari pengkhianatan terhadap amanah yang Allah titipkan.
Seorang Muslim yang memahami ayat ini akan memperlakukan setiap tetes air dengan rasa hormat dan kesadaran bahwa itu adalah pemberian langsung dari Rabb-nya. Ia tidak akan membiarkan keran mengalir sia-sia, tidak akan membuang air bersih tanpa keperluan, dan tidak akan merusak sumber-sumber alam yang menjadi jalur rezeki dari langit.
Maka setiap kali air mengalir dari keran, setiap kali hujan membasahi bumi, dan setiap kali tegukan segar melegakan dahaga, jadikanlah itu sebagai momen untuk mengingat bahwa semua itu bisa Allah cabut kapan saja. Syukur yang paling jujur bukan hanya yang terucap di lisan, tetapi yang terwujud dalam cara kita merawat dan menggunakan setiap nikmat yang telah Allah percayakan.









