BERTUAHPOS — Mantan Kepala Staf Militer Israel, Herzi Halevi, mengonfirmasi lebih dari 200.000 warga Palestina tewas atau terluka sejak perang di Gaza pecah pada 7 Oktober 2023. Pernyataan ini ia sampaikan dalam pertemuan masyarakat di Israel selatan awal pekan ini.
Halevi menyebut angka tersebut setara dengan lebih dari 10% dari total 2,2 juta penduduk Gaza. Angka itu mendekati data resmi Kementerian Kesehatan Gaza yang mencatat 64.718 korban tewas dan 163.859 terluka hingga kini. Ribuan orang lainnya masih dikhawatirkan terkubur di reruntuhan.
Mantan panglima yang mengundurkan diri pada Maret lalu itu menegaskan bahwa operasi militer Israel di Gaza tidak pernah terhambat oleh nasihat hukum. “Tidak sekali pun ada yang membatasi saya. Tidak sekali pun,” ujarnya, dilansir dari The Guardian, Sabtu, 13 September 2925.
Halevi juga menyinggung bahwa peran utama penasihat hukum militer lebih untuk membela legalitas tindakan Israel di mata dunia internasional, bukan membatasi keputusan operasional. “Kami akan tahu bagaimana membela ini secara hukum di dunia,” katanya.
Sementara itu, data intelijen militer Israel yang bocor menunjukkan lebih dari 80 persen korban tewas di Gaza hingga Mei 2025 adalah warga sipil. Hal ini bertolak belakang dengan klaim Israel yang kerap menuding laporan Kementerian Kesehatan Gaza sebagai propaganda Hamas.
Setidaknya 40 orang dilaporkan tewas pada Jumat (12/9) akibat serangan Israel, mayoritas di sekitar Kota Gaza. Banyak korban adalah warga yang tidak mampu atau enggan mengungsi ke selatan karena tidak ada tempat perlindungan aman.
Pengacara hak asasi manusia Israel, Michael Sfard, menilai pernyataan Halevi membuktikan penasihat hukum militer hanya menjadi “stempel” bagi keputusan para jenderal. “Mereka bukan pengendali, melainkan sekadar penasehat yang bisa diterima atau ditolak,” ujarnya.
Hingga Jumat malam, pihak militer Israel (IDF) belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Halevi mengenai jumlah korban maupun peran penasihat hukum militer.***









