BERTUAHPOS — Israel melancarkan serangan darat besar-besaran ke Kota Gaza pada Selasa, 16 September. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengerahkan tank, kendaraan lapis baja, dan mobil kendali jarak jauh berisi bahan peledak untuk menghantam posisi Hamas.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan operasi ini bertujuan menghancurkan infrastruktur teror. “Gaza sedang terbakar. IDF menyerang dengan tangan besi. Kami tidak akan menyerah sampai misi selesai,” tulisnya di X.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan tujuan utama serangan adalah mengalahkan Hamas dan mengevakuasi warga. Namun, ia tidak lagi menyinggung pembebasan sandera, sehingga keluarga sandera berunjuk rasa di Yerusalem menuduhnya mengabaikan mereka.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menilai Israel tidak serius mencari perdamaian. “Israel bertekad maju sampai akhir dan menolak negosiasi gencatan senjata,” ujarnya.
Dua divisi IDF dilaporkan terlibat dalam operasi ini, dengan satu divisi mengepung Kota Gaza. Militer Israel memperkirakan 3.000 pejuang Hamas dan sekutunya bersiap menghadang serangan.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 59 orang tewas dan 386 luka-luka dalam 24 jam terakhir. Total korban jiwa warga Palestina akibat perang selama hampir dua tahun mencapai hampir 65.000 orang.
Serangan darat berlangsung bertepatan dengan laporan komisi HAM PBB yang menuduh Israel melakukan genosida. Ketua komisi, Navi Pillay, menegaskan ada niat nyata menghancurkan warga Palestina di Gaza. Israel menolak laporan itu dan menyebutnya keliru.
Uni Eropa merespons dengan menyiapkan sanksi baru. Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, menyebut serangan darat hanya akan memperburuk krisis dengan menambah korban, kerusakan, dan pengungsian massal.
IDF memperkirakan 40% dari satu juta penduduk Kota Gaza telah mengungsi ke selatan. Namun UNICEF menegaskan tidak ada tempat aman bagi warga, termasuk hampir setengah juta anak yang hidup dalam trauma akibat perang berkepanjangan.
Serangan darat ini diluncurkan usai kunjungan Menlu AS Marco Rubio yang menjanjikan dukungan penuh terhadap Israel. Presiden AS Donald Trump menegaskan Hamas akan bertanggung jawab jika menggunakan sandera sebagai tameng manusia.***
Sumber: The Guardian









