• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 7, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Dampak Konflik Timur Tengah, Indeks Harga Pangan Dunia Melonjak

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
5 April 2026
Dampak Konflik Timur Tengah: Indeks Harga Pangan Dunia Melonjak

Dampak Konflik Timur Tengah: Indeks Harga Pangan Dunia Melonjak

163
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS – Indeks harga pangan dunia melonjak, dampak dari perang Timur Tengah. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan lonjakan signifikan pada harga pangan dunia sepanjang Maret 2026.

Eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama, setelah mendorong kenaikan biaya energi dan menciptakan ketidakpastian masif di pasar global.

Melansir data resmi FAO pada Minggu, 5 April 2026, Indeks Harga Pangan FAO yang memantau perubahan bulanan harga internasional komoditas pangan pokok menyentuh angka 128,5 poin.

Posisi ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,4% dibandingkan Februari 2026, sekaligus mencatat kenaikan 1,0% jika dihitung secara tahunan.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, menjelaskan bahwa meski kenaikan harga saat ini masih relatif terbatas karena tertahan oleh melimpahnya pasokan serealia, situasi dapat memburuk dengan cepat.

Ia memperingatkan bahwa jika konflik bersenjata tersebut melampaui durasi 40 hari, para petani di berbagai belahan dunia akan terjepit oleh pilihan yang mengancam stabilitas pasokan pangan hingga tahun depan.

“Apabila konflik berlangsung lebih dari 40 hari di tengah tingginya biaya input dan tipisnya margin saat ini, petani akan dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertani dengan input yang lebih sedikit, mengurangi luas tanam, atau beralih ke komoditas yang membutuhkan pupuk lebih rendah,” kata Torero dalam keterangan tertulisnya.

Secara sektoral, Indeks Harga Serealia FAO mengalami kenaikan 1,5% yang didorong oleh lonjakan harga gandum dunia sebesar 4,3%.

Kondisi ini diperparah oleh kekeringan di Amerika Serikat serta prediksi penurunan luas tanam di Australia akibat mahalnya harga pupuk.

Sementara itu, harga jagung global cenderung stabil karena stok yang melimpah mampu meredam kekhawatiran biaya input, meskipun mendapat sentimen positif dari meningkatnya permintaan etanol.

Berbeda dengan komoditas lain, Indeks Harga Beras FAO justru mengalami penurunan sebesar 3,0%.

Faktor musim panen, melemahnya permintaan impor di pasar internasional, serta depresiasi mata uang terhadap dolar AS menjadi penyebab utama melandainya harga beras.

Kenaikan tajam juga terlihat pada Indeks Harga Minyak Nabati yang melesat 5,1% dalam sebulan, atau 13,2% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.

Melambungnya harga minyak mentah memicu permintaan tinggi terhadap biofuel, yang kemudian menyeret naik harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.

Sektor pemanis pun tidak luput dari gejolak, di mana Indeks Harga Gula FAO mencatat kenaikan tertinggi mencapai 7,2% pada Maret.

Hal ini dipicu oleh kebijakan Brasil yang mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol demi merespons mahalnya harga minyak dunia.

Di sektor protein dan susu, Indeks Harga Daging FAO naik 1,0% akibat terbatasnya pasokan daging sapi dari Brasil dan kenaikan harga daging babi di Uni Eropa.

Namun, harga daging unggas dan domba justru terkoreksi karena gangguan logistik di wilayah Timur Tengah.

Sementara itu, Indeks Harga Produk Susu FAO naik 1,2% menyusul penurunan pasokan musiman dari wilayah Oseania, meskipun harga keju di Uni Eropa terpantau melemah akibat rendahnya permintaan ekspor.***

Tags: Amerika serikatFAOHarga panganIranIsraelTimur Tengah
Share4Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Target Sanksi Bank AS Meluas, Mesir dan Turki di Radar
Ekonomi

Target Sanksi Bank AS Meluas, Mesir dan Turki di Radar

...

Read moreDetails
Kisah Sindikat Malone Lam Pencuri Bitcoin Senilai USD245 juta, Siapa Dia?

Kisah Sindikat Malone Lam Pencuri Bitcoin Senilai USD245 juta, Siapa Dia?

Proyeksi Inflasi 2026 Capai 3,13%, El Nino Godzilla Jadi Risiko Terbesar

Proyeksi Inflasi 2026 Capai 3,13%, El Nino Godzilla Jadi Risiko Terbesar

43 Persen Pasokan Minyak Dunia Berasal dari Negara Konflik, Krisis Energi Memburuk

43 Persen Pasokan Minyak Dunia Berasal dari Negara Konflik, Krisis Energi Memburuk

Respon Presiden Iran soal Klaim AS Negaranya Akan Runtuh

Respon Presiden Iran soal Klaim AS Negaranya Akan Runtuh

Defisit Anggaran AS Sudah di Posisi Puncak

Defisit Anggaran AS Sudah di Posisi Puncak

Next Post
Honda Jazz 2026 Hybrid Siap Dominasi Jalanan Perkotaan

Honda Jazz 2026 Hybrid Siap Dominasi Jalanan Perkotaan

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.