BERTUAHPOS – Indeks harga pangan dunia melonjak, dampak dari perang Timur Tengah. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan lonjakan signifikan pada harga pangan dunia sepanjang Maret 2026.
Eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama, setelah mendorong kenaikan biaya energi dan menciptakan ketidakpastian masif di pasar global.
Melansir data resmi FAO pada Minggu, 5 April 2026, Indeks Harga Pangan FAO yang memantau perubahan bulanan harga internasional komoditas pangan pokok menyentuh angka 128,5 poin.
Posisi ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,4% dibandingkan Februari 2026, sekaligus mencatat kenaikan 1,0% jika dihitung secara tahunan.
Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, menjelaskan bahwa meski kenaikan harga saat ini masih relatif terbatas karena tertahan oleh melimpahnya pasokan serealia, situasi dapat memburuk dengan cepat.
Ia memperingatkan bahwa jika konflik bersenjata tersebut melampaui durasi 40 hari, para petani di berbagai belahan dunia akan terjepit oleh pilihan yang mengancam stabilitas pasokan pangan hingga tahun depan.
“Apabila konflik berlangsung lebih dari 40 hari di tengah tingginya biaya input dan tipisnya margin saat ini, petani akan dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertani dengan input yang lebih sedikit, mengurangi luas tanam, atau beralih ke komoditas yang membutuhkan pupuk lebih rendah,” kata Torero dalam keterangan tertulisnya.
Secara sektoral, Indeks Harga Serealia FAO mengalami kenaikan 1,5% yang didorong oleh lonjakan harga gandum dunia sebesar 4,3%.
Kondisi ini diperparah oleh kekeringan di Amerika Serikat serta prediksi penurunan luas tanam di Australia akibat mahalnya harga pupuk.
Sementara itu, harga jagung global cenderung stabil karena stok yang melimpah mampu meredam kekhawatiran biaya input, meskipun mendapat sentimen positif dari meningkatnya permintaan etanol.
Berbeda dengan komoditas lain, Indeks Harga Beras FAO justru mengalami penurunan sebesar 3,0%.
Faktor musim panen, melemahnya permintaan impor di pasar internasional, serta depresiasi mata uang terhadap dolar AS menjadi penyebab utama melandainya harga beras.
Kenaikan tajam juga terlihat pada Indeks Harga Minyak Nabati yang melesat 5,1% dalam sebulan, atau 13,2% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Melambungnya harga minyak mentah memicu permintaan tinggi terhadap biofuel, yang kemudian menyeret naik harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.
Sektor pemanis pun tidak luput dari gejolak, di mana Indeks Harga Gula FAO mencatat kenaikan tertinggi mencapai 7,2% pada Maret.
Hal ini dipicu oleh kebijakan Brasil yang mengalihkan lebih banyak tebu untuk produksi etanol demi merespons mahalnya harga minyak dunia.
Di sektor protein dan susu, Indeks Harga Daging FAO naik 1,0% akibat terbatasnya pasokan daging sapi dari Brasil dan kenaikan harga daging babi di Uni Eropa.
Namun, harga daging unggas dan domba justru terkoreksi karena gangguan logistik di wilayah Timur Tengah.
Sementara itu, Indeks Harga Produk Susu FAO naik 1,2% menyusul penurunan pasokan musiman dari wilayah Oseania, meskipun harga keju di Uni Eropa terpantau melemah akibat rendahnya permintaan ekspor.***









