BERTUAHPOS – Kebijakan pemerintah menambah suntikan dana sebesar Rp100 triliun ke sistem perbankan dikhawatirkan akan memicu perubahan arah investasi di sektor finansial.
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) memproyeksikan perbankan bakal lebih condong menempatkan dana tersebut ke Surat Berharga Negara (SBN) daripada menyalurkannya sebagai kredit ke sektor riil.
Senior Vice President LPPI, Trioksa Siahaan, mengungkapkan bahwa fleksibilitas dana yang bisa ditarik sewaktu-waktu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi perbankan.
Apalagi, saat ini permintaan kredit belum pulih sepenuhnya, sementara imbal hasil (yield) SBN sedang merangkak naik. Dalam situasi tersebut, investasi di instrumen negara dinilai jauh lebih aman dan menjanjikan keuntungan yang pasti. “Kondisi ini tetap akan mendorong bank untuk masuk ke SBN,” kata Trioksa, dikutip Bertuahpos, Selasa, 31 Maret 2026.
Sebagai catatan, tambahan Rp100 triliun ini membuat total dana pemerintah yang parkir di perbankan sejak tahun lalu mencapai Rp300 triliun. Berbeda dengan suntikan Rp200 triliun pada September 2025 yang wajib dialokasikan ke sektor riil, dana terbaru ini justru sengaja didesain untuk menjaga stabilitas pasar obligasi negara.
Trioksa menegaskan bahwa kebijakan ini bukan berarti langkah pemerintah sebelumnya tidak efektif. Jika dana Rp200 triliun bertujuan menekan biaya dana (cost of fund) agar bunga kredit turun, maka dana Rp100 triliun ini adalah tameng untuk menahan gejolak pasar SBN. “Penempatan likuiditas ke bank yang dapat digunakan untuk membeli SBN juga bertujuan agar kenaikan yield SBN dapat tertahan,” ujarnya.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya memang mengakui memberikan kelonggaran bagi perbankan dalam mengelola dana segar tersebut. Langkah ini diambil sebagai respons cepat atas pergerakan bond yield yang mulai naik signifikan selama satu bulan terakhir. Injeksi likuiditas ini bahkan dilakukan sepekan sebelum masa libur Lebaran untuk memastikan sistem perekonomian tetap stabil.
“Kalau bond yield naik 0,1% saya sudah perhatikan, ada apa nih? Naik 0,4%, pasti kekeringan, kekurangan likuiditas di bank atau apa penyebabnya? Saya cek, oh betul bank kurang. Saya tambah lagi, masukkan ke sistem perekonomian,” ujar Purbaya.***









