BERTUAHPOS — Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia melemah tajam sepanjang sepekan terakhir. Rata-rata nilai transaksi saham harian tercatat anjlok 43,4% menjadi Rp24,75 triliun, dari pekan sebelumnya yang masih mencapai Rp43,76 triliun per hari.
Berdasarkan data perdagangan saham periode 2–6 Februari 2026, penurunan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi harian. Sepanjang pekan tersebut, volume perdagangan susut 31,7% menjadi 43,2 miliar saham per hari, dibandingkan 63,3 miliar saham pada pekan sebelumnya.
Tekanan pasar semakin terlihat dari merosotnya rata-rata frekuensi transaksi harian. Selama sepekan terakhir, frekuensi transaksi hanya mencapai 2,72 juta kali per hari, turun 28,2% dari pekan sebelumnya yang berada di level 3,82 juta kali transaksi.
Pelemahan kinerja perdagangan turut tercermin pada pergerakan indeks. Pada penutupan perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 7.935, ambrol 4,73% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di posisi 8.329.
Penurunan tajam IHSG tersebut menandai tekanan besar di pasar saham domestik, seiring meningkatnya aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar. Sentimen kehati-hatian investor terlihat masih mendominasi perdagangan sepanjang pekan.
Dengan posisi IHSG di level 7.935, nilai kapitalisasi pasar BEI ikut tergerus signifikan. Market cap tercatat tersisa Rp14.341 triliun, atau turun 4,69% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang masih berada di angka Rp15.046 triliun.
Meski pasar mengalami tekanan, investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026. Data BEI menunjukkan nilai net buy asing all market mencapai Rp944,31 miliar pada hari tersebut.
Namun demikian, secara kumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, aliran dana asing masih mencatatkan tren keluar. Hingga awal Februari, BEI membukukan net foreign sell sebesar Rp11,02 triliun.
Kondisi ini mencerminkan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan, baik yang dipicu faktor global maupun sentimen domestik. Investor cenderung bersikap selektif dan mengurangi aktivitas transaksi.
Analis menilai pergerakan pasar ke depan masih akan dipengaruhi oleh dinamika global serta stabilitas ekonomi dalam negeri. Pelaku pasar diimbau mencermati volatilitas dan tetap mengedepankan manajemen risiko dalam berinvestasi.***









