BERTUAHPOS — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pemerintah masih memiliki sejumlah peluang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026. Namun, pelaku usaha mengingatkan bahwa tantangan utama justru muncul setelah fase tersebut, ketika dorongan musiman tidak lagi menjadi penopang utama pertumbuhan.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menekankan pentingnya pemberdayaan kembali atau re-empowerment kelas menengah sebagai jangkar utama pertumbuhan konsumsi domestik. Menurutnya, penguatan kelompok ini menjadi faktor krusial dalam menjaga momentum ekonomi nasional.
Shinta menilai laju pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1–5,2% mencerminkan kondisi yang relatif stabil. Namun, angka tersebut dinilai belum optimal untuk menciptakan daya ungkit ekonomi yang kuat dan berkelanjutan bagi dunia usaha.
“Penguatan kepercayaan dan daya beli kelas menengah menjadi kunci untuk menjaga momentum ekonomi tetap berkelanjutan, terutama melalui stabilitas lapangan kerja yang produktif dan berkesinambungan,” ujar Shinta saat dihubungi.
Secara historis, kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan dinamika yang belum sepenuhnya solid. Pada triwulan IV-2025, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,39%, namun secara keseluruhan sepanjang 2025 ekonomi nasional hanya tumbuh 5,11%, di bawah target pemerintah sebesar 5,2%.
Untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas, Apindo menilai dunia usaha membutuhkan perbaikan iklim bisnis yang dilakukan secara konsisten. Salah satu langkah utama adalah memangkas berbagai komponen high-cost economy yang masih membebani pelaku usaha.
Shinta menyebut biaya energi, logistik, dan pinjaman sebagai faktor yang perlu segera dibenahi. Selain itu, pelaksanaan agenda deregulasi secara berkelanjutan dinilai penting agar sektor swasta memiliki ruang lebih besar untuk berekspansi.
“Tanpa perbaikan di sisi biaya dan regulasi, ruang bagi sektor swasta untuk memperluas kapasitas dan menyerap tenaga kerja akan tetap terbatas,” tegas Shinta.
Apindo juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi idealnya tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas. Pemerintah didorong untuk menciptakan pertumbuhan yang produktif, inklusif, dan berorientasi jangka panjang agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme pemerintah bahwa ekonomi Indonesia pada 2026 dapat tumbuh 5,4%. Konsumsi rumah tangga yang kuat, belanja berkualitas, kinerja eksternal yang kompetitif, serta peningkatan investasi dengan peran swasta yang lebih besar menjadi fondasi utama pertumbuhan tersebut.***









