BERTUAHPOS — Harga emas dunia terus menunjukkan tren penguatan. Pada perdagangan Jumat, 12 September 2025, harga emas di pasar spot ditutup di level US$ 3.642,4 per troy ons atau sekitar Rp1,92 juta per gram.
Angka ini naik 0,29% dibandingkan hari sebelumnya sekaligus menjadi rekor tertinggi penutupan sepanjang sejarah, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz, Selasa, 16 September 2025.
Di sesi intraday, emas bahkan sempat menembus level tertinggi US$3.673,95 per troy ons (Rp1,94 juta/gram). Rekor tersebut memicu sejumlah lembaga keuangan global memperbarui proyeksi harga emas dalam beberapa tahun ke depan.
JPMorgan menjadi salah satu yang merevisi prediksi. Sebelumnya, mereka memperkirakan emas hanya akan mencapai US$ 3.500 per troy ons.
Namun, kini target dinaikkan menjadi rata-rata US$3.675 per troy ons pada kuartal IV-2025, dengan potensi menembus US$4.000 pada kuartal II-2026.
JPMorgan menilai emas menjadi instrumen lindung nilai optimal di tengah risiko stagflasi, resesi, dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat.
Goldman Sachs lebih optimistis. Mereka memproyeksikan harga emas bisa reli hingga mendekati US$5.000 per troy ons (Rp2,63 juta/gram). Dalam skenario dasar, emas diperkirakan berada di kisaran US$4.000 pada pertengahan 2026.
Jika sebagian kecil kepemilikan obligasi pemerintah AS beralih ke emas, maka harga berpotensi menembus US$ 4.500 hingga US$5.000 per troy ons.
UBS Group AG juga menaikkan targetnya. Bank asal Swiss itu memperkirakan emas mencapai US$3.800 per troy ons pada akhir 2025, lalu menyentuh US$3.900 per troy ons (Rp2,06 juta/gram) pada pertengahan 2026. UBS menilai pelemahan dolar AS dan kebijakan suku bunga rendah akan terus mendorong minat investor terhadap emas.
Sementara itu, ANZ Group Holdings Ltd. ikut merevisi ramalan dengan target US$ 3.800 per troy ons di akhir 2025. ANZ menilai kebijakan moneter longgar The Fed hingga Maret 2026 serta meningkatnya permintaan dari China dan India akan menopang harga emas di level tinggi.
Dengan proyeksi tersebut, emas kian menguatkan posisinya sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global, terutama menghadapi risiko inflasi, resesi, dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat.***









