BERTUAHPOS.COM — Harga emas dunia merosot 3% pada Senin (28/9/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari 7 pekan.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan tetap tinggi.
Menurut laporan Reuters, harga emas dunia anjlok 3% menjadi USD4.156,45 per ons pada pukul 15.14 WIB, terendah sejak 5 Agustus.
Harga emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Desember ambles 3,1% ke posisi USD4.188,80 per ons.
Dolar AS yang bertahan kuat membuat emas, yang dihargai dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury kembali melompat.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menyebut 2 faktor itu lah yang menjadi pemicu utama pelemahan emas belakangan ini.
“Kenaikan harga minyak dan meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga AS lebih lanjut yang diperhitungkan pelaku pasar merupakan pendorong utama pelemahan emas baru-baru ini,” kata Staunovo.
Kondisi itu dapat membuat imbal hasil riil AS dan dolar tetap tinggi. Hal ini meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sekaligus berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut pada harga emas dalam jangka pendek.
Harga minyak mentah Brent kembali melesat setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran untuk menyelesaikan konflik kedua negara dan membuka kembali Selat Hormuz.
Kebuntuan itu membuat ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi. Kenaikan biaya energi cenderung mendorong inflasi karena meningkatkan harga berbagai barang dan jasa.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan Oktober mencapai 70,3%.
The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada awal bulan ini dan memberi sinyal bahwa pengetatan tambahan masih mungkin dilakukan.
Pada Jumat, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack menyatakan kekhawatirannya bahwa inflasi yang terus tinggi dapat membuat masyarakat Amerika terbiasa menerima harga tinggi sebagai kondisi normal. Menurut dia, bank sentral tidak dapat membiarkan hal itu terjadi.
Perhatian investor kini beralih ke rangkaian data ekonomi AS pekan ini, yakni lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, data Personal Consumption Expenditures (PCE), serta nonfarm payrolls.
Data tersebut dapat memberi petunjuk soal tekanan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja yang berpotensi mempengaruhi kebijakan moneter The Fed.
Logam mulia lain ikut tertekan. Perak spot merosot 4,8% menjadi USD61,17 per ons, platinum melorot 2,4% ke USD1.735,88 per ons, dan paladium turun 2,2% ke USD1.239,60 per ons.









