BERTUAHPOS – Pasar logam mulia global menghadapi tekanan hebat sepanjang pekan ini. Harga emas mencatatkan rekor penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2020 setelah konflik bersenjata di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi yang tak terkendali.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat, 20 Maret 2026, harga emas di pasar spot sempat naik 0,75% ke level US4.685,10 per troy ounce. Sayangnya penguatan tipis itu tidak mampu menutupi “rapor merah” emas yang telah anjlok hampir menyentuh 8% dalam akumulasi satu minggu terakhir.
Tren negatif ini mengakhiri reli panjang emas yang sempat menyentuh level tertinggi US5.600 pada akhir Januari lalu.
| Simak analisa menarik lainnya tentang prediski harga emas.
Melambungnya harga minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bulan lalu menjadi faktor utama.
Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi baru yang membuat bank sentral global, khususnya Federal Reserve (The Fed), enggan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas kehilangan daya tariknya saat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) dan indeks dolar AS terus menguat.
Investor cenderung melepas kepemilikan emas mereka untuk menutupi kerugian di sektor aset lainnya, yang terlihat dari masifnya arus keluar modal pada exchange-traded funds (ETF) berbasis emas.
Situasi pasar saat ini diperkirakan masih jauh dari kepastian. Robert Gottlieb, mantan trader logam mulia di JPMorgan Chase & Co. yang kini menjadi komentator pasar independen, memperingatkan para pelaku pasar untuk tidak terburu-buru melakukan aksi beli.
“Jangan membeli saat harga turun — volatilitasnya masih terlalu tinggi,” ujar Gottlieb.
Dia menegaskan bahwa tekanan jual masih memiliki potensi besar untuk berlanjut selama stabilitas harga belum tercapai.
“Tekanan jual berpotensi berlanjut selama volatilitas belum mereda dan harga belum menunjukkan konsolidasi,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan pihaknya tetap mempertahankan suku bunga tinggi pada pertemuan pertengahan minggu ini. Langkah ini diambil untuk memastikan inflasi benar-benar melandai sebelum melakukan pelonggaran kebijakan moneter.
Pola pergerakan harga emas saat ini mengingatkan pasar pada situasi tahun 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina terjadi. Meski saat ini emas masih mencatat pertumbuhan sekitar 8% sepanjang tahun berjalan (year-to-date), ketidakpastian geopolitik dan bayang-bayang intervensi politik terhadap independensi bank sentral tetap menjadi risiko utama yang membayangi pergerakan harga ke depan.***









