BERTUAHPOS.COM — Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara belum serta-merta memulihkan kepercayaan investor di pasar modal domestik.
Rebound (naiknya) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih bersifat sesaat dan lebih mencerminkan relief rally atas kepastian figur, bukan perbaikan fundamental fiskal.
Pandangan ini disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana. Baginya, pelaku pasar saat ini cenderung wait and see, menantikan langkah konkret Menteri Keuangan Suahasil Nazara, dalam menahkodai kebijakan fiskal negara.
“Karena pasar mendapat kepastian figur, tetapi buktinya investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp330 miliar dan indeks ditutup turun tipis 0,10 persen ke 6.534 sehingga pasar belum sepenuhnya membeli ceritanya,” ujar Hendra, Selasa, September 2026.
Suahasil sebenarnya mengantongi bekal mumpuni di mata pelaku pasar. Pengalamannya sebagai Wakil Menteri Keuangan membuatnya memahami struktur anggaran, postur penerimaan dan belanja, pembiayaan utang, hingga sensitivitas pasar. Namun, proses adaptasinya mungkin butuh waktu lama dan proses yang panjang.
Menurut Hendra, jam terbang itu justru melahirkan ekspektasi tinggi. Pasar berharap Suahasil mampu memulihkan persepsi arah fiskal secara cepat.
Pasar keuangan kini menantikan peta jalan konkret mengenai strategi pembiayaan defisit anggaran serta koordinasi fiskal-moneter demi menjaga stabilitas rupiah.
Kejelasan komunikasi otoritas fiskal dinilai krusial agar apresiasi pasar saham tidak berujung pada jebakan penguatan semu.
“Ujian pertama Suahasil adalah mengembalikan kredibilitas dan prediktabilitas kebijakan fiskal,” katanya.
“Sebab jika komunikasi tidak solid dan kebijakan kembali berubah-ubah, penguatan IHSG bisa cepat berubah menjadi false rebound,” tambah Hendra.
Lantas, dia melihat bahwa ganti menteri itu hanya sebatas katalis awal, bukan pengubah peta permainan otomatis di bursa saham.
Tekanan makroekonomi eksternal masih cukup pekat, mulai dari lonjakan harga minyak mentah Brent di atas USD107 per barel yang memicu inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.669 per USD, ketidakpastian arah suku bunga acuan global, hingga koreksi saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di bursa regional Asia.
Dari kacamata teknikal, Hendra menilai indeks komposit domestik berada di persimpangan krusial untuk menguji kekuatan pembalikan arah.
Peluang kenaikan lanjutan sangat bergantung pada kemampuan indeks bertahan di atas batas toleransi psikologisnya.
“Area 6.500 menjadi level psikologis penting, selama mampu dipertahankan maka ruang rebound menuju 6.600-6.700 terbuka, namun jika jebol investor harus bersiap menghadapi konsolidasi yang lebih dalam,” kata Hendra.
Jika level 6.700 mampu ditembus dengan sokongan volume beli solid dan kembalinya aliran dana asing, indeks berpotensi menguji rentang 6.800 hingga 6.900.
Kendati demikian, Hendra menekankan fase saat ini masih menjadi ajang pembuktian fundamental dan belum dapat dipastikan sebagai titik awal tren bullish baru.
Hendra menggarisbawahi pelaku pasar dapat tetap bersikap objektif dan tidak terbuai sentimen jangka pendek akibat perombakan pos kementerian.
Kelanjutan reli indeks saham ke depan sepenuhnya digantungkan pada konsistensi eksekusi anggaran serta disiplin fiskal yang nyata.
“Pesan saya kepada investor sederhana, jangan terjebak euforia pergantian Menteri Keuangan, karena dalam kondisi saat ini pasar menunggu kepastian kebijakan dan sebaiknya tidak membeli harapan tetapi membeli bukti,” jelasnya.








