BERTUAHPOS – Otoritas Pengembangan Lahan Federal (FELDA) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk menjadikan B100—biodiesel berbasis minyak sawit 100 persen—sebagai pilar baru kekuatan ekonomi dan kedaulatan energi nasional. Langkah ini muncul sebagai respons konkret dalam menghadapi ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh krisis berkepanjangan di Asia Barat.
Ketua FELDA, Datuk Seri Ahmad Shabery Cheek, menegaskan bahwa potensi B100 bukan sekadar alternatif energi biasa, melainkan instrumen ekonomi yang kompetitif dan berkelanjutan. Saat ini, implementasi B100 masih dalam tahap pematangan kebijakan, namun FELDA berkomitmen untuk memulai penerapannya terlebih dahulu di dalam ekosistem internal mereka guna membuktikan efektivitas bahan bakar nabati ini secara nyata.
Ahmad Shabery mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi intensif dengan jajaran tinggi pemerintahan, termasuk Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim dan Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi, guna mengawal kebijakan ini. Integrasi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan pasokan bahan baku menjadi kunci utama sebelum peluncuran massal dilakukan.
“Pada tahap ini, kebijakan pemerintah perlu diterapkan, karena kita mungkin tidak memiliki pasokan minyak sawit mentah (CPO) yang cukup untuk segera meluncurkan B100,” katanya dalam sebuah konferensi pers di Malaysia, 9 April 2026.
Secara teknis ekonomi, Ahmad Shabery memproyeksikan harga pabrik untuk B100 akan berada di kisaran RM4,50 per liter. Namun, angka tersebut tetap bersifat fluktuatif karena sangat bergantung pada pergerakan harga pasar CPO dunia. Meski demikian, ia optimis bahwa stabilitas harga domestik dapat terjaga jika ketergantungan pada solar (diesel) fosil mulai dikurangi secara bertahap melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
“Dengan perkiraan harga di bawah RM5,00 per liter, B100 tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada diesel, tetapi juga mendukung stabilisasi harga bahan bakar domestik dan memperkuat keamanan energi nasional,” katanya.
Untuk mendukung ambisi tersebut, FELDA bersama FGV Holdings Bhd berencana memperluas jaringan pabrik pengolahan biodiesel guna memacu kapasitas produksi nasional. Penambahan infrastruktur ini dianggap vital untuk memastikan ketersediaan stok saat permintaan pasar mulai beralih ke energi hijau. Terkait pendanaan dan operasional, pihak otoritas sedang menjajaki berbagai skema kerja sama strategis.
“Kami sedang berdiskusi untuk menentukan bentuk kemitraan, apakah akan melibatkan partisipasi penuh sektor swasta, dukungan pemerintah, atau pihak lain, untuk memenuhi persyaratan peningkatan kapasitas B100,” katanya.
Sejak tahun 2025, proyek percontohan penggunaan B100 telah sukses diimplementasikan pada kendaraan penumpang selama 15 bulan dengan total jarak tempuh melampaui 50.000 kilometer tanpa kendala teknis berarti. Selain itu, pengujian performa pada truk tangki juga telah dilakukan selama empat bulan pada tahun 2024 untuk memastikan keandalan bahan bakar ini pada kendaraan bermuatan berat.***









