BERTUAHPOS.COM — Permintaan agresif bank sentral serta kebutuhan diversifikasi aset di tengah korelasi tinggi antara saham dan obligasi, membuka jalan bagi harga emas untuk melesat menuju level US$5.500 per troy ounce dalam 6-9 bulan ke depan.
Koreksi tajam pasar ekuitas dan penguatan dolar Amerika Serikat justru menciptakan momentum bagi logam mulia untuk kembali bersinar sebagai aset pelindung nilai (safe haven)utama.
Proyeksi ini disampaikan oleh para ahli strategi dari State Street Global Advisors yang dipimpin oleh Aakash Doshi dalam riset terbaru mereka yang dikutip dari Kitco News, Sabtu, 4 Juli 2026.
Tim itu menetapkan skenario dasar dengan probabilitas 70 persen bahwa harga emas batangan akan meroket ke kisaran US$4.750 hingga US$5.500 per troy ounce.
Sementara itu, hambatan taktis yang bersifat bearish meningkatkan kemungkinan skenario kenaikan yang lebih moderat. Para ahli memperkirakan dengan peluang 25 persen, logam mulia tersebut akan berfluktuasi di sekitar US$4.000 hingga US$4.750 per troy ounce dalam jangka pendek.
Di sisi lain, State Street juga memetakan risiko penurunan yang perlu diwaspadai investor. Harga emas berisiko terkoreksi ke level support US$3.750 hingga US$4.000 per troy ounce jika tekanan makroekonomi semakin membebani sentimen.
Sepanjang Juni lalu, harga emas spot memang telah terpangkas cukup dalam hingga menyentuh titik kritis. “Harga emas spot turun 11,7% hingga ke level support US$4.000/troy ounce secara sporadis,” tulis para ahli State Street dalam catatan risetnya.
Arus keluar dana besar-besaran dari kendaraan investasi emas ikut mewarnai dinamika bulanan. ETF emas yang terdaftar di AS mencatatkan penarikan dana bulanan yang besar sekitar US$5,3 miliar setelah arus dana yang relatif seimbang selama April dan Mei 2026.
Namun, secara penyesuaian risiko, emas masih menunjukkan ketangguhan dibandingkan aset alternatif lainnya. Emas mengungguli perak, bitcoin, dan komoditas spot sepanjang bulan lalu meskipun menghadapi tekanan jual yang signifikan.









