BERTUAHPOS.COM — Naiknya harga cabai dianggap salah satu pemicu utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga atau IPH di 17 provinsi pada minggu ketiga Mei 2026. Sementara itu, 21 provinsi lainnya justru mencatat penurunan IPH dibandingkan periode sebelumnya.
Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam rapat secara virtual, Selasa, 26 Mei 2026. “Komoditas penyumbang andil kenaikan IPH di 17 provinsi tersebut didominasi oleh cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah,” ujarnya.
Provinsi Bengkulu mencatat kenaikan IPH tertinggi sebesar 1,89 persen dengan komoditas penyumbang utama yakni cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. DKI Jakarta menyusul di posisi kedua dengan kenaikan IPH sebesar 1,66 persen, didorong oleh jeruk, cabai merah, dan mi kering instan.
Kenaikan IPH juga terjadi di Jawa Timur sebesar 0,91 persen dengan komoditas penyumbang cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.
“Provinsi Sumatera Utara mengalami kenaikan IPH 0,90 persen dengan komoditas penyumbangnya cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng,” ungkap Pudji dalam Rakor Pengendalian Inflasi yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin, 25 Mei 2026.
Secara nasional, jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan IPH pada minggu ketiga Mei 2026 ini lebih sedikit dibandingkan yang mengalami penurunan. Kondisi ini mengindikasikan tekanan harga cabai naik belum merata di seluruh wilayah Indonesia.
Di Pulau Sumatera, kenaikan IPH tertinggi terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dengan nilai perubahan IPH mencapai 4,27 persen. Komoditas penyumbang terbesar di pulau ini didominasi oleh cabai merah dan cabai rawit.
Di Pulau Jawa, kenaikan IPH tertinggi tercatat di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dengan nilai perubahan IPH sebesar 3,93 persen. Cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah menjadi komoditas utama yang mendorong lonjakan IPH di wilayah tersebut.
Sementara itu, kenaikan IPH tertinggi di luar Pulau Jawa dan Sumatera terjadi di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, dengan nilai perubahan IPH paling tinggi mencapai 4,83 persen.
“Komoditas penyumbang andil kenaikan IPH terbesar di luar Pulau Jawa dan Sumatera tersebut didominasi oleh beras dan cabai merah,” kata Pudji.









