BERTUAHPOS.COM — Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) semakin cepat melebihi kemampuan untuk penangananya. Kondisi tersebut memaksa Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangga yang dinilai berisiko tinggi tertular penyakit mematikan tersebut.
WHO menegaskan bahwa situasi di lapangan semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan respons darurat yang jauh lebih masif. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagaimana dilansir dari The Guardian, Selasa, 26 Mei 2026. “Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi ini lebih cepat dari yang kami mampu,” ujarnya.
Tedros menyampaikan peringatan tersebut dalam pertemuan daring Uni Afrika yang membahas penanganan wabah Ebola. Dalam forum yang sama, ia mengumumkan bahwa hingga saat ini telah terjadi 220 kematian yang diduga akibat wabah Ebola, dan ia dijadwalkan bertolak langsung ke DRC bersama Chikwe Ihekweazu, Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO.
Di tengah krisis yang memburuk, situasi di lapangan semakin rumit akibat serangan warga terhadap fasilitas kesehatan di Provinsi Ituri, pusat wabah Ebola saat ini. Pada Sabtu dan Minggu, warga Kota Mongbwalu menyerang Rumah Sakit Rujukan Umum Mongbwalu dalam beberapa gelombang serangan.
Direktur medis fasilitas tersebut, dr. Richard Lokodu, mengungkapkan bahwa 18 pasien Ebola ada yang melarikan diri setelah orang-orang tak dikenal membakar tenda isolasi yang didirikan oleh Médecins Sans Frontières.
“Rumah sakit kami mengalami empat gelombang serangan pada hari Minggu, dilakukan oleh kaum muda yang dimobilisasi oleh kerabat seorang pemimpin agama yang meninggal karena Ebola,” kata Lokodu kepada Reuters.
Para pelaku serangan menuntut jenazah korban wabah Ebola dibebaskan untuk dimakamkan secara tradisional. Dalam insiden serupa di waktu berbeda, sekelompok orang juga membakar pusat perawatan di Rwampara dekat Bunia, setelah pihak berwenang menolak menyerahkan jenazah yang ingin dikuburkan sendiri oleh keluarga.
Praktik pemakaman tradisional yang melibatkan pencucian dan menyentuh jenazah akan menjadi salah satu pendorong utama penyebaran wabah Ebola dalam wabah-wabah sebelumnya. Pihak berwenang menangani jenazah secara khusus demi pengendalian penyakit, namun sebagian keluarga tetap bersikeras menjalankan ritual adat mereka.
Awal bulan ini, WHO telah menetapkan wabah Ebola ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, setelah lebih dari 300 kasus yang diduga dan 88 kematian dilaporkan di DRC serta dua kematian di Uganda. Pada Senin, Uganda kembali mengumumkan dua kasus baru Ebola sehingga total kasus yang dikonfirmasi di negara itu bertambah menjadi tujuh, keduanya adalah petugas kesehatan di fasilitas kesehatan swasta di ibu kota Kampala.
Wabah ini disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo yang langka dan hingga kini belum memiliki pengobatan maupun vaksin yang disetujui. Titik-titik penyebaran terpusat di wilayah Rwampara, Mongbwalu, Nyankunde, dan Bunia di Provinsi Ituri, kawasan timur laut DRC yang kaya emas namun dilanda konflik berkepanjangan antara milisi etnis Hema dan Lendu yang telah menewaskan lebih dari 50.000 orang sejak 1999.
Kasus wabah Ebola juga dilaporkan di Butembo dan Goma yang dikuasai pemberontak di Provinsi Kivu Utara, serta Kota Bukavu di Provinsi Kivu Selatan. Tedros menegaskan bahwa upaya pengendalian wabah semakin dipersulit oleh kondisi keamanan yang tidak stabil di Ituri dan Kivu Utara, ditambah ketiadaan vaksin yang sudah mendapat persetujuan resmi.









