BERTUAHPOS.COM — Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,0%, level tertinggi sejak 1995, dalam langkah normalisasi kebijakan moneter yang dilakukan secara bertahap. Keputusan ini telah diantisipasi luas oleh pasar sehingga yen Jepang hanya bereaksi terbatas, dengan pasangan USDJPY bertahan di atas level 160.
Dikutip dari xtb.com, Selasa, 16 Juni 2026, BOJ juga menyoroti risiko kenaikan inflasi konsumen (CPI) yang berpotensi melampaui target 2%. Di sisi lain, bank sentral mengumumkan penghentian pengurangan pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) mulai April 2027, dengan mempertahankan pembelian bulanan di kisaran ¥2 triliun.
Langkah pembelian obligasi itu memberikan nuansa dovish di tengah keputusan kenaikan suku bunga yang secara umum bersifat hawkish. Kombinasi dua sinyal ini menjadi perhatian utama pasar keuangan global.
Indeks JP225 (Nikkei 225) sempat melemah pascapengumuman BOJ, namun berhasil memangkas seluruh kerugiannya. Pasar menerima kenaikan suku bunga acuan tersebut dengan tenang karena telah diperhitungkan jauh sebelumnya.
Fokus investor kini beralih pada kemungkinan BOJ melanjutkan siklus pengetatan berikutnya pada Juli mendatang. Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari optimisme atas kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Sementara itu, Reserve Bank of Australia (RBA) memilih menahan suku bunga acuan di level 4,35%, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan itu diambil secara bulat setelah tiga kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini.
RBA menegaskan inflasi masih terlalu tinggi, namun bank sentral ingin terlebih dahulu mengevaluasi dampak kebijakan pengetatan sebelumnya serta gangguan di pasar minyak global. Reaksi AUDUSD relatif terbatas, mencerminkan bahwa keputusan ini dinilai netral oleh pasar.
Bank sentral Australia memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak global memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya. Harga bahan bakar yang lebih tinggi diperkirakan akan secara bertahap memengaruhi harga barang dan jasa lainnya.
Sebagian bahasa hawkish dalam pernyataan bulan Mei juga telah dilunakkan dalam pernyataan terbaru RBA. Hal ini mengindikasikan bank sentral kemungkinan akan tetap berada dalam mode wait-and-see kecuali inflasi kembali melonjak signifikan.
Di pasar komoditas, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi US$80 per barel dari sebelumnya US$90 per barel. Bank investasi itu juga menurunkan proyeksi rata-rata harga Brent 2027 menjadi US$75 per barel.
Revisi ini mencerminkan ekspektasi bahwa ekspor minyak dari Teluk Persia akan kembali normal pada akhir Juli, lebih cepat satu bulan dari perkiraan semula. Ini merupakan penurunan proyeksi kedua Goldman Sachs dalam satu pekan, yang memperkuat pandangan bahwa premi risiko geopolitik di pasar minyak mulai memudar.
Meski demikian, harga minyak berpotensi tetap tinggi dalam jangka menengah meski kesepakatan permanen terkait Selat Hormuz berhasil dicapai. Persediaan minyak global diperkirakan telah berkurang sekitar 1 hingga 1,5 miliar barel, sementara biaya asuransi pengiriman laut masih jauh di atas level normal.
Dari sisi ekonomi, produksi industri China tumbuh 4,5% secara tahunan pada Mei, melampaui ekspektasi pasar. Namun penjualan ritel justru turun 0,6% secara tahunan, menjadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi Covid-19.
Data investasi aset tetap juga mencatat pelemahan signifikan, mengindikasikan bahwa permintaan domestik China masih terus melemah. Sebaliknya, sektor berbasis ekspor dan industri kecerdasan buatan (AI) masih menunjukkan ketahanan.
Harga rumah baru di China turut turun lebih cepat pada Mei dibanding bulan sebelumnya. Kota-kota besar mulai memperlihatkan tanda stabilisasi awal, namun sektor properti secara keseluruhan masih berada dalam kondisi rapuh.
Di pasar logam mulia, Barclays menilai koreksi harga emas sebesar 20% hingga 25% belakangan ini lebih merupakan penyesuaian posisi pasar ketimbang perubahan tren jangka panjang. Bank itu mempertahankan proyeksi harga emas 2026 di US$4.791 per ons dan target 2027 di US$4.900 per ons.
Analis Barclays menyebut harga emas masih ditopang risiko inflasi, ketidakpastian politik, serta diversifikasi cadangan devisa yang terus dilakukan bank sentral dunia. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pascameredanya ketegangan Iran juga berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.









