BERTUAHPOS – Suasana meriah tampak memenuhi lapangan SMA Negeri 10 Pekanbaru pada Rabu, 28 Mei 2025, saat sekolah tersebut menggelar kegiatan Panen Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Acara ini mengangkat tema; Dari Tradisi Menuju Inovasi, Anak Muda Berkarya Tanpa Menyakiti, yang sarat makna dan relevansi bagi perkembangan karakter generasi muda masa kini.
Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian proyek P5 yang digagas oleh siswa-siswi SMA Negeri 10 Pekanbaru sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka. Tema yang diusung menitikberatkan pada pentingnya inovasi dalam berkarya, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan saling menghargai antarindividu.
Ketua pelaksana Reysyatta Alfairuz A. Saad, saat diwawancarai Bertuahpos di lokasi acara, menyampaikan bahwa pemilihan tema bertujuan untuk mengingatkan siswa dan masyarakat luas agar terus berkarya dan berinovasi tanpa harus menyakiti orang lain.
“Kami ingin menanamkan nilai bahwa bullying bukanlah bagian dari proses kreatif. Justru kolaborasi dan saling menghargai adalah kunci dari karya yang bermakna,” ujarnya.
Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Pekanbaru Abdul Gafar, M. Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Ia mengungkapkan rasa bangganya kepada seluruh siswa yang telah menampilkan kreativitas dan semangat gotong royong dalam mewujudkan acara ini. “Panen Karya ini adalah bukti nyata bahwa siswa mampu menjadi agen perubahan yang positif,” ujarnya.
Lapangan sekolah dipenuhi oleh tenda-tenda bazar yang berjejer rapi di sekeliling area utama. Setiap tenda menampilkan hasil karya siswa, mulai dari kerajinan tangan, hasil daur ulang kreatif, hingga teknologi sederhana berbasis lokal. Pengunjung, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat sekitar, tampak antusias menyaksikan karya-karya yang dipamerkan.
Selain pameran karya, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni seperti tari tradisional, musik modern, dan drama edukatif bertema anti-bullying. Penampilan tersebut menggambarkan kolaborasi lintas kelas dan menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh generasi muda.
Panen Karya ini juga menjadi ruang dialog antara siswa, guru, dan masyarakat tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua. Diskusi interaktif serta sesi refleksi turut digelar, di mana siswa dapat menyuarakan pendapat dan gagasan mereka.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga menjadi media pembelajaran karakter bagi seluruh warga sekolah. Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, keadilan sosial, dan kemanusiaan yang adil dan beradab tercermin jelas dalam seluruh rangkaian acara.
Dengan terselenggaranya Panen Karya ini, SMA Negeri 10 Pekanbaru membuktikan komitmennya dalam mendidik generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak secara sosial dan emosional. Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Riau dan Indonesia pada umumnya.
Sebagai penutup, Reysyatta berharap agar semangat berkarya tanpa menyakiti dapat terus tumbuh dalam diri para pelajar. “Inovasi boleh berkembang, tetapi hati nurani dan nilai kemanusiaan harus tetap menjadi landasan dalam setiap tindakan,” tutupnya.***
— Habibie









