BERTUAHPOS — Pendidikan agama tidak sekedar soal ibadah dan moral. Agama berperan penting dalam mencetak generasi yang berkualitas. Di tengah tantangan zaman, nilai-nilai keagamaan terbukti memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, disiplin, dan berintegritas tinggi.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis moral, peran agama justru semakin vital dalam mencetak anak-anak bangsa yang berkualitas lahir dan batin, apakah pendidikan agama masih relevan dalam membentuk generasi yang tangguh di era digital?
Bertuahpos melakukan diskusi dengan Dr. Dedek Andrian, M.Pd, salah satu dosen di Universitas Islam Riau (UIR), untuk menjawab persoalan ini. Menurutnya pendidikan dan agama merupakan dua pilar penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Keduanya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling mendukung dan menguatkan. Pemisahan antara pendidikan formal dan pembinaan nilai-nilai agama dapat melahirkan generasi yang pintar secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.
“Kita bisa lihat di banyak kasus, orang yang berpendidikan tinggi pun bisa terjerumus ke dalam penyimpangan karena lemahnya landasan moral. Di sinilah pentingnya pendidikan berbasis nilai agama,” ujarnya, Jumat, 30 Mei 2025 di Pekanbaru.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks pendidikan Islam, pembelajaran seharusnya tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan spiritual. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengintegrasikan ajaran agama dalam berbagai mata pelajaran serta menumbuhkan budaya religius di lingkungan sekolah dan kampus.
“Pendidikan agama bukan hanya tugas guru agama. Setiap pengajar, apa pun bidangnya, harus mampu menanamkan nilai-nilai etika, kejujuran, dan tanggung jawab dalam materi yang diajarkan,” tambahnya.
Berdasarkan data dari Kementerian Agama RI tahun 2023, sekolah dan universitas yang menerapkan integrasi nilai agama dalam kurikulum mengalami peningkatan dalam kedisiplinan, serta penurunan signifikan pada kasus pelanggaran tata tertib.
Survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2024 juga menunjukkan bahwa 68% masyarakat Indonesia percaya bahwa pendidikan berbasis nilai agama dapat mencegah tindak pidana korupsi dan membentuk pemimpin yang berintegritas di masa depan.
Lebih jauh, Dr. Dedek menyoroti tantangan pendidikan di era digital yang makin kompleks. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan spiritual agar peserta didik tidak terjebak dalam arus negatif budaya global.
“Anak-anak kita saat ini mudah terpapar nilai-nilai asing yang bertentangan dengan budaya dan agama. Maka pendidikan agama menjadi benteng utama,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dr. Dedek mengajak seluruh institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, untuk tidak mengabaikan aspek religius dalam penyelenggaraan pendidikan.
“Jika kita ingin bangsa ini maju dan bermartabat, maka pendidikan dan agama harus terus berjalan seiring, saling menguatkan untuk mencetak generasi yang utuh, cerdas, bermoral, dan berakhlak mulia,” tutupnya.***
– Habibie









