Sektor hulu migas masih dihadapkan pada tantangan besar untuk capai target 500 pengeboran migas di WK Rokan. Salah satunya tantangan penurunan alamiah sumur hingga 40% per tahun.
BERTUAHPOS – Target ambisius produksi migas di Wilayah Kerja (WK) Rokan, memang bukan perkara mudah. Berbagai tantangan teknis maupun non-teknis dapat menghambat laju pengeboran, mulai dari penurunan produksi alamiah hingga masalah perizinan dan sengketa lahan.
Hal ini diakui oleh General Manager PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Andre Wijanarko, kepada awak media dalam paparannya pada Rabu, 23 September 2025, di Journey Room PHR, Camp Rumbai, Pekanbaru.
Wijanarko menjelaskan bahwa aktivitas utama perusahaan hulu itu, saat ini lebih kepada pengeboran masif. Perusahaan menargetkan 500 pengeboran di WK Rokan sebagai komitmen menjaga ketahanan energi nasional.
Namun, dia menekankan bahwa produksi migas tidak bisa instan karena sumber daya alam fosil itu, secara alamiah tentu memiliki keterbatasan. Misal, debit sumur migas di WK Rokan yang mengalami penurunan alami sekitar 40% per tahun.
“Kalau kita tidak melakukan apa-apa, 40% itu hilang. Bayangkan saja dampaknya bagi produksi nasional,” ujar Andre.
Selain faktor geologis, perusahaan juga dihadapkan dengan berbagai berkendala non-teknis yang cukup kompleks.
Sebut saja soal sengketa lahan yang menjadi salah satu hambatan utama. Proses akuisisi lahan untuk pengeboran kerap memakan waktu lama karena kepemilikan lahan bisa melibatkan banyak pihak.
Proses ini, kata dia, bisa memakan waktu lima hingga enam tahun. Padahal, proyek seharusnya bisa rampung dalam 70 hingga 90 hari. Kondisi ini membuat beberapa pengeboran tertunda jauh dari jadwal yang ditargetkan.
Andre menambahkan, kendala lainnya adalah soal perizinan. Banyak titik pengeboran beririsan dengan kawasan yang dikelola pemerintah maupun perkebunan besar. Hal ini menuntut koordinasi lintas instansi yang intensif dan sering kali memerlukan waktu panjang.
Tantangan tersebut harus diselesaikan bersama-sama oleh Pertamina dan pemerintah daerah. Kolaborasi dinilai penting agar kegiatan pengeboran bisa berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat bagi perekonomian daerah.
Terkait temuan cadangan migas jumbo senilai 724 juta barel di Riau, PHR meminta masyarakat untuk realistis. Meski potensi tersebut sangat besar, mewujudkannya menjadi produksi riil memerlukan waktu panjang mulai dari eksplorasi, perizinan, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
“Masyarakat harus tahu bahwa ini bukan sesuatu yang bisa diwujudkan dalam dua tahun. Perlu proses panjang dan kerja keras dari semua pihak,” ungkapnya.
Hingga kini, PHR tetap berkomitmen mendukung ketahanan energi nasional melalui strategi pengeboran agresif, dan WK Rokan akan menjadi salah satu penyumbang utama produksi migas nasional sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat Riau.***









