BERTUAHPOS – Harga minyak sawit mentah (CPO) di bursa berjangka Malaysia dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi.
Menurut laporan Reuters, tekanan penurunan terjadi setelah harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade terkoreksi, meski penguatan harga minyak nabati di Dalian menahan penurunan lebih dalam.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 15 ringgit atau 0,33% menjadi 4.514 ringgit (USD 1.074,51) per metrik ton pada awal perdagangan. Pada sesi sebelumnya, harga sempat melonjak 1,55%.
Di pasar global, harga minyak kedelai di Chicago melemah 0,38%. Sebaliknya, kontrak minyak kedelai di Dalian menguat 0,4% dan kontrak minyak sawit naik 0,63%. Pergerakan harga ini menunjukkan ketatnya persaingan antar minyak nabati di pasar dunia.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia bergerak naik setelah Ukraina meningkatkan serangan ke infrastruktur energi Rusia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat juga memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi.
Penguatan harga minyak mentah biasanya mendorong daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Pasar kini menunggu laporan ekspor CPO Malaysia periode 1–25 Agustus yang dijadwalkan rilis hari ini oleh lembaga survei kargo.
Faktor mata uang turut memengaruhi pasar. Ringgit Malaysia menguat 0,59% terhadap dolar AS, sehingga membuat harga CPO berpotensi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Dari sisi kebijakan, Kementerian Perdagangan Indonesia menekan Uni Eropa untuk mencabut bea masuk imbalan terhadap impor biodiesel.
Desakan ini muncul setelah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memenangkan sebagian besar klaim Indonesia dalam sengketa perdagangan tersebut.
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao menilai harga CPO masih bergerak netral di kisaran 4.475–4.542 ringgit per metrik ton. Pergerakan di luar kisaran tersebut akan memberi sinyal arah tren berikutnya.***









