BERTUAHPOS – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menghadapi tantangan serius terkait pasokan emas dan bijih nikel pada paruh kedua 2025, menurut hasil riset IndoPremier.
Hasil pengecekan pasar menunjukkan ketersediaan emas batangan di butik Antam, Jakarta Selatan, sangat terbatas. Pada kunjungan pekan lalu, hanya tersedia satu batang emas 5 gram dan tiga batang emas 10 gram untuk dijual.
SIMAK ARTIKEL MENARIK LAINNYA TENTANG EMAS
Perusahaan mengakui pasokan emas mengalami kendala sejak Juli 2025. Kondisi ini diperkirakan menekan penjualan emas bulanan ANTM pada semester II-2025 hingga turun 34–61%, atau hanya 1,9–3,2 ton per bulan dibandingkan dengan rata-rata 4,9 ton per bulan di semester I-2025.
Pasokan tambahan emas kemungkinan hanya berasal dari PT Smelting milik Freeport. Sementara itu, smelter baru Freeport di JIIPE, Gresik, diperkirakan baru rampung pada akhir tahun fiskal 2025.
Selain masalah emas, penjualan bijih nikel ANTM juga berpotensi menurun pada kuartal IV-2025. Perusahaan memperoleh tambahan kuota RKAB sebesar 1 juta wmt pada Juli 2025, sehingga total kuota tahun ini mencapai 18 juta wmt.
Namun, gangguan lingkungan di tambang Gag Nickel membuat sekitar 1,5 juta wmt dari kuota 3 juta wmt berpotensi tidak terserap tahun ini.
Dengan alokasi 2 juta wmt untuk produksi feronikel internal, hanya sekitar 14,4 juta wmt bijih nikel yang bisa dijual ke pihak ketiga. Dengan rata-rata penjualan 1,3–1,4 juta wmt per bulan, kuota diperkirakan habis pada kuartal IV-2025.
Meski menghadapi tekanan pasokan, analis tetap merekomendasikan Beli (Buy) saham ANTM dengan target harga Rp3.900 per saham. Prediksi laba bersih 2025–2027 tetap dipertahankan dengan proyeksi pertumbuhan EPS 2025 sebesar +93% yoy.
Analis menilai laba bersih ANTM tahun fiskal 2025 masih berpotensi melampaui ekspektasi konsensus, meskipun momentum kinerja per kuartal berpotensi menurun.***









