BERTUAHPOS — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup lebih tinggi pada Kamis, 11 September 2025. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi meningkatnya permintaan menjelang musim perayaan Deepavali bulan depan.
Pedagang komoditas David Ng menyebut India, salah satu pembeli utama minyak sawit, mulai meningkatkan stok sejak awal tahun untuk menghadapi kebutuhan selama festival. “Kami melihat level support di RM4.400 per ton dan resistance di RM4.580,” ujarnya kepada Bernama.
Pada penutupan perdagangan, kontrak spot September 2025 dan Oktober 2025 sama-sama menguat RM43 menjadi masing-masing RM4.383 dan RM4.415 per ton. Sementara itu, kontrak November 2025 naik RM41 menjadi RM4.454 per ton.
Untuk kontrak jangka menengah, Desember 2025 mencatat kenaikan RM35 menjadi RM4.481 per ton. Kontrak Januari 2026 naik RM31 menjadi RM4.494 per ton, sedangkan Februari 2026 menguat RM25 menjadi RM4.484 per ton.
Volume transaksi tercatat turun menjadi 64.358 lot dibandingkan 87.050 lot pada perdagangan Rabu. Namun, open interest justru meningkat menjadi 256.725 kontrak dari 254.559 kontrak sebelumnya.
Di pasar fisik, harga CPO untuk wilayah Selatan Malaysia pada September 2025 naik RM60 menjadi RM4.450 per ton.
Analisa
Kenaikan harga kontrak berjangka CPO pada 11 September 2025 menunjukkan tren positif dan erat kaitannya dengan faktor musiman. Permintaan dari India yang meningkat menjelang Deepavali menjadi pendorong utama, mengingat negara tersebut merupakan konsumen minyak nabati terbesar di dunia.
Level support di RM4.400 per ton menandakan pasar masih stabil, sementara resistance di RM4.580 memberi gambaran bahwa ruang kenaikan harga masih terbuka. Jika permintaan tetap kuat, harga CPO berpotensi menembus resistance tersebut dalam waktu dekat.
Meskipun volume transaksi menurun, peningkatan open interest menunjukkan adanya minat baru dari investor yang melihat peluang dalam komoditas ini. Hal ini menegaskan bahwa pasar minyak sawit masih atraktif sebagai instrumen investasi.
Secara keseluruhan, prospek harga CPO dalam beberapa pekan mendatang cenderung positif, didukung faktor musiman, pemulihan permintaan global, serta dukungan fundamental dari negara importir besar seperti India dan Tiongkok.
Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan harga minyak nabati lain dan kebijakan ekspor dari produsen utama yang dapat memengaruhi tren harga.***









