BERTUAHPOS.COM — Harga CPO atau kontrak berjangka minyak sawit mentah di Bursa Malaysia Derivatives ditutup lebih rendah pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan dari harga minyak mentah global yang ikut merosot, mengingat minyak sawit banyak digunakan sebagai bahan baku biofuel.
“Penurunan harga minyak mentah turut menekan harga minyak sawit karena keduanya saling terkait sebagai bahan baku energi,” kata Pedagang saham independen dari Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, Selasa, 26 Mei 2026, dilansir dari Bernama.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun 5,28 persen menjadi US$98,07 per barel. David menambahkan bahwa ekspektasi melambatnya permintaan dalam beberapa minggu ke depan juga ikut menambah tekanan pada harga CPO.
Permintaan dari India disebut menjadi salah satu faktor yang memperlemah posisi minyak sawit di pasar global. “Permintaan dari India melambat terutama karena minyak nabati lain yang lebih murah membuat minyak sawit kurang kompetitif,” kata David.
David juga menyebut level harga yang perlu dicermati para pelaku pasar saat ini. “Kami melihat harga didukung di RM4.400 dan resistensi di RM4.580,” ungkapnya.
Pada penutupan perdagangan, kontrak Juni 2026 turun RM20 menjadi RM4.410 per ton, kontrak Juli 2026 turun RM17 menjadi RM4.446 per ton, dan kontrak Agustus 2026 melemah RM13 menjadi RM4.473 per ton. Kontrak September 2026 turut terkoreksi RM9 menjadi RM4.493 per ton, sementara Oktober dan November 2026 masing-masing turun RM8 menjadi RM4.517 dan RM4.544 per ton.
Volume perdagangan harga CPO pada sesi ini tercatat menurun menjadi 57.304 lot dari 76.909 lot pada Jumat sebelumnya. Namun di sisi lain, open interest justru naik menjadi 282.395 kontrak dari 280.499 kontrak pada sesi sebelumnya.
Di pasar fisik, harga CPO untuk June South tercatat lebih rendah sebesar RM50 menjadi RM4.450 per ton. Angka ini mencerminkan tekanan yang masih berlanjut di pasar fisik sejalan dengan pelemahan kontrak berjangka.









