BERTUAHPOS — Harga kontrak minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup menguat pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026. Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi pulihnya permintaan dari India, meski tekanan pasokan minyak kedelai dari China masih membayangi pasar.
Berdasarkan data penutupan BMD, kontrak berjangka CPO Februari 2026 melonjak 18 ringgit menjadi 4.100 ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Maret 2026 naik 11 ringgit ke level 4.132 ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka untuk pengiriman April 2026 juga mencatat kenaikan sebesar 6 ringgit menjadi 4.160 ringgit Malaysia per ton. Penguatan berlanjut pada kontrak Mei 2026 yang naik 4 ringgit ke posisi 4.167 ringgit Malaysia per ton.
Adapun kontrak Juni 2026 menguat 3 ringgit menjadi 4.161 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 juga naik 3 ringgit dan ditutup di level 4.153 ringgit Malaysia per ton.
Analis menilai, potensi peningkatan permintaan minyak sawit India mulai terbuka seiring harga CPO yang semakin kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya. Penurunan harga sebelumnya membuat minyak sawit kembali menarik bagi importir utama dunia tersebut.
Saat ini, harga CPO untuk pengiriman Maret ke India ditawarkan sekitar US$1.165 per ton dengan basis cost, insurance, and freight (CIF). Angka ini lebih rendah dibandingkan harga minyak kedelai mentah yang berada di kisaran US$1.281 per ton, berdasarkan data Asosiasi Ekstraktor Pelarut India.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, memperkirakan impor minyak sawit India pada 2026 akan meningkat menjadi 8,5 hingga 9 juta ton. Jumlah tersebut naik dibandingkan realisasi impor 2025 yang tercatat sebesar 7,6 juta ton.
Meski demikian, laju pemulihan permintaan minyak sawit India diperkirakan tetap terbatas. Pasalnya, China tengah gencar mengekspor minyak kedelai akibat kelebihan pasokan, setelah mengimpor kedelai dalam jumlah besar sepanjang tahun lalu.
Analis industri Dorab Mistry menyebutkan, ekspor minyak kedelai China yang mencapai hampir 100.000 ton per bulan telah menekan pasar India. Kondisi ini berdampak langsung pada permintaan minyak sawit serta harga minyak nabati secara keseluruhan.
Di sisi lain, produksi minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia yang masih kuat dinilai akan menjaga tekanan harga tetap ada. Namun, selisih harga yang lebih murah membuat India diperkirakan tetap mengandalkan impor minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
Secara keseluruhan, konsumsi minyak nabati India pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 25 juta ton, relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan produksi domestik yang terbatas, India diperkirakan tetap harus mengimpor sekitar 15,5 hingga 16 juta ton minyak nabati, dengan minyak sawit menjadi kontributor terbesar.***









