BERTUAHPOS — Harga CPO atau minyak kelapa sawit mentah berjangka Malaysia menguat pada perdagangan Senin, 19 Mei 2025. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan dua sesi sebelumnya—yang dipicu oleh penguatan harga minyak kedelai sebagai salah satu komoditas saingan utama di pasar minyak nabati global.
Kontrak harga CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 41 ringgit, atau sekitar 1,07%, ke posisi 3.856 ringgit per metrik ton (setara USD895,08) pada jeda perdagangan siang, menurut laporan Reuters.
Penguatan juga terlihat pada kontrak minyak kedelai (soyoil) Dalian yang mencatat kenaikan 0,52%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama naik 0,2%. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai melonjak 0,55%.
Minyak kelapa sawit sangat dipengaruhi pergerakan minyak nabati lainnya karena komoditas ini bersaing dalam pangsa pasar global, terutama dalam produksi minyak goreng dan bahan baku industri biodiesel.
Faktor tambahan yang mendukung harga adalah pelemahan ringgit Malaysia sebesar 0,37% terhadap dolar AS. Karena CPO dihargai dalam ringgit, pelemahan ini menjadikan produk lebih kompetitif bagi pembeli luar negeri yang menggunakan mata uang lain.
Namun, tekanan dari pasar energi global masih membayangi. Harga minyak mentah dunia cenderung melemah menyusul penurunan peringkat kredit Amerika Serikat oleh Moody’s serta data ekonomi China yang menunjukkan perlambatan produksi industri dan penjualan ritel.
Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendesak pemerintah agar menunda rencana kenaikan pungutan ekspor CPO.
GAPKI memperingatkan, kebijakan tersebut dapat menurunkan daya saing industri sawit nasional di tengah ketidakpastian perdagangan global yang disebabkan oleh kebijakan tarif Amerika Serikat dan tensi geopolitik.
Menurut analis teknikal Reuters, Wang Tao, harga CPO mungkin berpotensi turun ke kisaran 3.763 ringgit per ton, mendekati area koreksi teknikal.
Kenaikan harga ini memberi angin segar sementara bagi pasar, namun tekanan eksternal dan kebijakan domestik tetap menjadi faktor penentu pergerakan harga dalam beberapa waktu ke depan.***









