BERTUAHPOS — Harga CPO atau minyak sawit mentah untuk kontrak berjangka ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 15 Mei 2025 kemarin. Ini mengakhiri tren penguatan selama empat hari terakhir.
Penurunan ini dipicu oleh harga minyak kedelai yang melemah serta kekhawatiran pasar terhadap potensi perubahan kebijakan biofuel di Amerika Serikat.
Trader minyak sawit, David Ng, menyebut penurunan harga CPO mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar atas kemungkinan perubahan kebijakan kredit energi terbarukan di AS.
“Kami melihat level support di RM3.750 per ton dan resistance di RM3.950 per ton,” ujarnya kepada Bernama.
Pada penutupan perdagangan, harga kontrak CPO untuk Mei 2025 tercatat turun RM69 ke level RM3.831 per ton. Sementara itu, kontrak Juni dan Juli 2025 masing-masing melemah RM55 menjadi RM3.872 dan RM3.868 per ton.
Kontrak Agustus 2025 juga merosot RM59 ke posisi RM3.856 per ton. Kontrak September 2025 terkoreksi RM54 menjadi RM3.852 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2025 turun RM45 ke harga RM3.855 per ton.
Volume perdagangan tercatat menurun menjadi 96.117 lot dibandingkan 121.576 lot pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, minat terbuka (open interest) turut menyusut menjadi 238.933 kontrak dari posisi sebelumnya sebanyak 242.608 kontrak.
Di pasar fisik, harga CPO untuk wilayah May South juga mengalami penurunan sebesar RM50, ditutup di level RM3.930 per ton.
Pergerakan harga ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih rapuh, dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk harga minyak nabati lain seperti minyak kedelai serta isu kebijakan energi terbarukan.
— Bernama









