BERTUAHPOS — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada Rabu, 15 Oktober 2025 setelah mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut.
Penguatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya sentimen positif di pasar, terutama setelah Indonesia mempertimbangkan kenaikan pajak ekspor.
Pedagang komoditas David Ng mengatakan, kebijakan Indonesia tersebut memberi keuntungan kompetitif bagi CPO Malaysia.
“Harga didukung dengan baik di atas RM4.400 per ton, dengan resistensi di RM4.580 per ton,” ujarnya dikutip Bernama, Kamis, 16 Oktober 2025.
Laporan pasar menunjukkan, penurunan impor minyak sawit oleh India turut memberi tekanan pada harga berjangka Malaysia.
Namun, di sisi lain, hal ini memperkuat harga minyak kedelai berjangka Amerika Serikat.
Impor minyak sawit India pada September tercatat turun 16,3 persen menjadi 829.017 ton—terendah sejak Mei—karena penyuling beralih ke minyak kedelai yang lebih murah.
Pengiriman minyak kedelai bahkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Pada penutupan perdagangan, kontrak spot Oktober 2025 turun RM30 menjadi RM4.320 per ton.
Sementara kontrak November naik RM22 menjadi RM4.429 per ton, dan kontrak Desember serta Januari masing-masing naik RM16 menjadi RM4.477 dan RM4.512 per ton.
Untuk kontrak Februari dan Maret 2026, harga naik RM13 menjadi RM4.515 dan RM4.500 per ton.
Total volume transaksi turun menjadi 117.165 lot dari 119.170 pada hari sebelumnya, sedangkan open interest meningkat sedikit menjadi 281.788 kontrak.
Di pasar fisik, harga October South naik RM10 menjadi RM4.430 per ton.***





































