• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 9, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Faisal Basri: Pak Presiden, Ganti Saja Menteri yang Gandrung Mengimpor

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
15 Maret 2021
109
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU — Ekonom Faisal Basri mengkritik rencana impor satu ton beras untuk tahun ini. Kebijakan itu dianggap bertentangan dengan semangat ketahanan pangan optimisme terhadap peningkatan produksi beras dalam negeri.

Kritik ini dilontarkan Faisal Basri dalam tulisannya dengan judul; Mau Impor Beras Besar-besaran Lagi: Pemburuan Rente Lagi, Rente Lagi di blog faisalbasri.com, dikutip, Senin, 15 Maret 2021.

“Bapak presiden, ganti saja segera menteri-menteri bapak yang gandrung mengimpor. Mereka mau gampangnya saja, lebih mengedepankan value extraction alias percaloan yang menguntungkan segelintir orang ketimbang value creation dengan kebijakan kreatif dan inovatif yang menaburkan maslahat bagi banyak orang,” katanya.

Sikap optimis Faisal Basri terhadap produksi beras dalam negeri akan meningkat, sehingga tidak dibutuhkan impor beras. Menurut dia, ada dua alasannya optimis produksi beras akan meningkat. 

Pertama, di tengah pandemi covid-19, sektor pertanian masih bisa mencatatkan pertumbuhan positif. Bahkan, subsektor tanaman pangan tumbuh positif 3,54 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Kedua, BPS mengumumkan bahwa potensi produksi beras Januari-April tahun ini mencapai 14,54 juta ton, meningkat sebanyak 3,08 juta ton atau 26,84 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Belum lagi, petani akan mengalami panen raya pada April-Mei mendatang. Dengan demikian, peningkatan produksi beras akan cukup tajam. “Lalu masih ada waktu yang cukup untuk mengamankan peningkatan produksi sampai akhir tahun ini,” ujarnya.

Selain itu, dia menjelaskan, harga eceran beras setahun terakhir bisa dikatakan sangat stabil. Berdasarkan data BPS, harga beras stabil di posisi Rp14.112 per kilogram (Kg) sejak 2019 lalu. Demikian juga dengan harga beras di tingkat penggilingan maupun harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani.

“Harga beras di Indonesia juga lebih stabil dari harga beras di pasar internasional yang mengacu pada harga beras Thailand maupun Vietnam,” katanya.

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi membuat kesalahan pada 2018 lalu terulang. Kala itu, dengan tingkat produksi yang bisa dikatakan tidak buruk, lonjakan impor sepanjang 2018 mengakibatkan stok yang dikuasai oleh pemerintah untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) naik hampir 4 juta ton.

Sebaliknya, penyalurannya anjlok dari 2,7 juta ton menjadi 1,9 juta ton. Akibatnya, stok beras melonjak lebih dua kali lipat dari 0,9 juta ton pada akhir 2017 menjadi 2 juta ton pada akhir 2018. Selain kepada konsumen, kondisi tersebut juga membebani Perum Bulog sebagai pengelola CBP.

“Bulog dibuatnya kewalahan mengelola stok sebanyak itu. Kualitas beras yang dikelolanya merosot, bahkan ada yang menjadi tidak layak konsumsi. Ongkos ‘uang mati’ pun tentu saja meningkat. Yang lebih mendasar lagi, kemampuan Bulog menyerap beras dari petani menjadi terbatas,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertindak tegas, khususnya pada menteri yang mudah mengeluarkan kebijakan impor. Ia menyatakan impor yang tidak tepat tersebut justru menguntungkan segelintir orang.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan rencana impor beras 1 juta ton itu dilakukan demi menjaga ketersediaannya di dalam negeri supaya harganya tetap terkendali. Rinciannya, impor 500 ribu ton untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 500 ribu ton sesuai dengan kebutuhan Perum Bulog. (bpc2)

Tags: ekonom seniorfaisal basriImpor berasproduksi beras
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Impor beras
Bisnis

India Ogah Jual Beras ke Indonesia, Pemerintah Pastikan Impor Beras Batal

...

Read moreDetails
ketersediaan beras di riau

Selain Cabai, Pemprov Riau Khawatirkan Stok & Harga Beras, Inflasi Bisa Semakin Meroket

pemungutan ekspor cpo, harga referensi cpo

Pemerintah Didorong untuk Tetapkan Harga Referensi CPO 2 Kali Sebulan, Ekonom Senior: Jika Perlu Seminggu Sekali

Stok BBM Riau, disparitas harga BBM

Stok BBM Terbatas, Pemprov Riau Digesa Tertibkan Travel Gelap

Perokok anak, konsumsi rokok

Faisal Basri Sebut Rokok China Masuk Indonesia Bebas Cukai

BERAS

Mendag Pastikan Tak Impor Beras Saat PPKM Darurat

Next Post
demonstrasi myanmar

Terbanyak, 39 Orang Myanmar Tewas di Tangan Pasukan

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.