PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat lonjakan signifikan dalam arus peti kemas ekspor-impor pada semester I – 2025. Volume peti kemas internasional mencapai 2,1 juta TEUs, tumbuh 13,64% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 1,8 juta TEUs.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa baik ekspor maupun impor sama-sama mengalami peningkatan. Jumlah peti kemas ekspor mencapai 1,01 juta TEUs, sedangkan impor sebesar 998 ribu TEUs sepanjang enam bulan pertama 2025.
“Peti kemas domestik juga tumbuh, meski tidak sebesar internasional. Totalnya 4,2 juta TEUs atau naik 4,86% dari 4 juta TEUs di semester I 2024,” ujarnya dalam keterangan tertulis, 16 Juli 2025.
Menurut Widyaswendra, pertumbuhan arus peti kemas internasional ini di luar ekspektasi perusahaan, terutama di tengah ketidakpastian global. Selain peningkatan muatan dagang, reposisi peti kemas kosong ke sejumlah negara turut menyumbang lonjakan volume.
Beberapa terminal mencatat pertumbuhan mencolok. Terminal Petikemas Semarang (TPK Semarang) naik 17,7 persen dari 353 ribu TEUs menjadi 415 ribu TEUs. Sementara IPC TPK tumbuh 43,26 persen dari 307 ribu menjadi 440 ribu TEUs.
“Secara keseluruhan, arus peti kemas (internasional dan domestik) di lingkungan Pelindo Terminal Petikemas mencapai 6,3 juta TEUs, naik 7,61 persen dibandingkan tahun lalu,” tambahnya.
Kenaikan ini sejalan dengan geliat aktivitas pelayaran internasional, khususnya jalur strategis Indonesia–China. Meski pertumbuhannya tidak merata di semua rute, beberapa jalur mencatat lonjakan signifikan.
Presiden Direktur Ocean Express Network (ONE) Indonesia, Keishin Watanabe, menyebut arus perdagangan Indonesia-China tumbuh signifikan pada semester I 2025, mendorong peningkatan volume pelayaran 3% hingga 5%, bahkan lebih tinggi di rute tertentu.
“Rute Indonesia–China mengalami pertumbuhan tertinggi. Ini efek dari relokasi rantai pasok global pasca kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump, yang mendorong perusahaan memindahkan basis mereka ke Asia Tenggara,” kata Watanabe.
Hal serupa dirasakan Pacific International Lines (PIL), perusahaan pelayaran asal Singapura. PIL membuka layanan langsung baru bernama North China Indonesia (NCI), menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama di China dengan TPK Koja (Tanjung Priok) dan TPS (Tanjung Perak Surabaya).
“Volume perdagangan antara Indonesia dan China sedang bagus. Ini alasan kami membuka kembali layanan langsung setelah sempat vakum lima tahun,” ujar Presiden Direktur PIL Indonesia, Sujeeva Salwatura.
Tak hanya pelayaran, sektor logistik domestik juga menunjukkan tren positif. Perusahaan lokal seperti Gateway Container Line (GCL) melaporkan pertumbuhan stabil pada berbagai lini layanan ekspor-impor.
Direktur Utama GCL, Hesty Rosmawati, menyebut layanan LCL impor tumbuh 8,94%, didominasi dari China. FCL impor naik 5,65%, sedangkan LCL ekspor tumbuh 9,2%, dengan tujuan utama ke Jebel Ali dan Vietnam. Sementara FCL ekspor melonjak 23,4%, terutama ke ASEAN dan Timur Tengah.
Pertumbuhan ini turut tercermin dalam kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Berdasarkan data ALFI dan Supply Chain Indonesia (SCI), kontribusi sektor ini mencapai 6,08% pada semester I 2025 dengan pertumbuhan 9,01% secara year-on-year.
CEO SCI, Setijadi, menyebut logistik nasional dipacu oleh sektor pertanian, industri makanan dan minuman, serta perdagangan. SCI memperkirakan sektor logistik tahun ini akan tumbuh 8,56%, dengan nilai kontribusi Rp1.517 triliun atau sekitar 6,49% dari total PDB nasional.***









