BERTUAHPOS.COM — Perang AS-Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan belum menemukan titik terang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku sepenuhnya sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.
Hal ini disampaikan oleh Presiden AS, Donald Trump di media sosial Truth, sebagaimana dikutip Bertuahpos, Senin, 25 Mei 2026. “Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar,” tulisnya.
Trump meredam harapan akan terobosan segera setelah sehari sebelumnya ia menyebut Washington dan Iran telah “sebagian besar menegosiasikan” nota kesepahaman tentang kesepakatan damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Selat ini, sebelum konflik perang AS-Iran pecah, mengangkut seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Kantor berita Tasnim yang terkait dengan Garda Revolusi Iran menyebut AS masih menghalangi beberapa bagian dari kesepakatan potensial, termasuk tuntutan Teheran untuk pencairan dana yang dibekukan.
Dilansir dari The Japan Times, kedua pihak masih berselisih pada sejumlah isu krusial dalam negosiasi perang AS-Iran ini, meliputi ambisi nuklir Iran, perang Israel di Lebanon dengan milisi Hizbullah yang didukung Iran, serta tuntutan Teheran untuk pencabutan sanksi dan pencairan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang dibekukan di bank-bank asing.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menyebut kesepakatan tidak akan ditandatangani dalam waktu dekat karena sistem Iran dinilai tidak bergerak cukup cepat.
Pejabat tersebut yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa Iran telah setuju “pada prinsipnya” untuk membuka Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut AS, sekaligus bersedia membuang uranium yang sangat diperkaya milik Teheran.
Ia juga menyebut AS memahami bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah mendukung garis besar kesepakatan tersebut, meski tidak ada konfirmasi langsung dari pihak Iran.
Pejabat AS itu menambahkan bahwa langkah pertama yang dibayangkan Washington adalah membuka kembali selat dan mencabut blokade angkatan laut, sementara negosiasi detail langkah-langkah nuklir akan membutuhkan waktu lebih lama.
Seorang pejabat senior administrasi lainnya menyebutkan kerangka kerja yang diusulkan akan memberi para negosiator waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir.
Sumber-sumber Iran menyebut pada tahap selanjutnya dapat ditemukan formula yang layak untuk menyelesaikan perselisihan soal persediaan uranium yang sangat diperkaya, termasuk pengenceran material tersebut di bawah pengawasan badan pengawas nuklir PBB.
Iran sendiri telah lama membantah tuduhan AS dan Israel bahwa mereka sedang mengejar senjata nuklir, dan menegaskan hak mereka memperkaya uranium untuk tujuan sipil meski kemurnian yang dicapai jauh melampaui kebutuhan pembangkit listrik.
Di tengah dinamika negosiasi perang AS-Iran ini, Trump yang peringkat popularitasnya terpukul akibat dampak konflik terhadap harga energi domestik juga menghadapi kritik dari berbagai arah.
Mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan sejumlah anggota parlemen Demokrat menilai kesepakatan yang tengah dirancang hanya menawarkan sedikit hal berbeda dibanding perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang pernah ditarik Trump sendiri di masa jabatan pertamanya.
Senator Demokrat Chris Van Hollen dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat menyebut garis besar kesepakatan yang dilaporkan itu tidak lebih dari sekadar mengembalikan kondisi ke “status quo sebelum perang”. “Saya pikir ini adalah sebuah kesalahan — ketika Anda menggali lubang, Anda harus berhenti menggali, dan sepertinya itulah yang akhirnya kita lakukan,” ujarnya di program Fox News Sunday.









