BERTUAHPOS – Orang di Riau masih susah dapat kerja karena ketersediaan lapangan pekerjaan masih sangat terbatas. Hal itu dapat dilihat dari paparan Plt Gubernur Riau SF Hariyanto soal capaian indokator makro dalam forum konsultasi publik rancangan awal RKPD Provinsi Riau tahun 2027, di Menara Dang Merdu Bank Riau Kepri (BRK) Syariah, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Rabu, 17 Februari 2026.
Dalam paparannya, sejumlah indikator makro menunjukkan Provinsi Riau terus bergerak ke arah pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat, angka kemiskinan dan ketimpangan menurun, serta kualitas lingkungan hidup membaik. Namun di sisi lain, tantangan penciptaan lapangan kerja masih menjadi pekerjaan rumah.
Dari paparan tersebut, Plt Gubri merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa IPM Riau terus naik dalam lima tahun terakhir, yang mencerminkan perbaikan akses pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat.
Tahun 2021, IPM Riau berada di angka 73,89 poin dan meningkat menjadi 76,31 poin pada 2025. “Angka tersebut konsisten berada di atas rata-rata nasional,” ujarnya.
Di sisi kemiskinan, Riau juga menunjukkan tren positif. Tingkat kemiskinan turun dari 7,00% pada 2021 menjadi 6,30% pada 2025 atau lebih rendah dari rata-rata nasional yang berada di kisaran 8,25% pada 2025.
Sementara itu, ketimpangan pendapatan di Riau juga semakin mengecil. Gini Ratio turun dari 0,327 poin pada 2021 menjadi 0,304 poin pada 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan Gini Ratio nasional yang berada di level 0,363 poin, “menjadi indikator bahwa distribusi pendapatan di Riau tergolong semakin merata,” katanya.

Dari sisi lingkungan, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Riau menunjukkan perbaikan signifikan. Setelah berada di angka 70,72 poin pada 2021 dan sempat turun pada 2023, IKLH melonjak menjadi 74,82 poin pada 2024.
Tak hanya itu, persentase penurunan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) di Riau juga meningkat tajam. Pada 2021, penurunan intensitas emisi tercatat 55,39 poin dan naik menjadi 66,9 poin pada 2024, atau lebih tinggi dibanding capaian nasional yang berada di level 43,72 poin pada 2024.
Meski demikian, tantangan masih terlihat pada indikator ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Riau sempat turun menjadi 3,70% pada 2024, namun kembali naik menjadi 4,06% pada 2025.
Meski masih lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 4,74%, kenaikan ini menjadi sinyal bahwa orang di Riau masih sulit untuk mendapatkan pekerjaan sehingga perlunya perluasan lapangan kerja baru.
Plt Gubernur Riau menegaskan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan angkatan kerja yang lebih cepat dibanding penciptaan lapangan kerja. Perubahan struktur ekonomi dan fluktuasi sektor komoditas juga berpotensi memengaruhi serapan tenaga kerja di Riau.
Secara keseluruhan, indikator makro menunjukkan Riau berada pada jalur pembangunan yang relatif stabil. Namun, pemerintah daerah tetap perlu mendorong investasi, hilirisasi industri, dan pengembangan sektor padat karya agar pertumbuhan ekonomi mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.***









