BERTUAHPOS – Provinsi Riau masih memiliki peran strategis dalam menopang produksi Minyak dan Gas (Migas) nasional, meski dihadapkan pada tantangan penurunan produksi akibat dominasi sumur tua.
“Kontribusi migas Riau masih sangat besar dan berpotensi terus ditingkatkan dengan strategi yang tepat,” kata Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Yanin Kholison, dalam wawancara khusus kepada Bertuahpos, belum lama ini.
SKK Migas yakin bahwa kunci keberlanjutan produksi migas di Riau terletak pada upaya mitigasi penurunan produksi serta peningkatan cadangan melalui kegiatan hulu migas yang lebih intensif.
Menurut catatan SKK Migas, Riau—khususnya Blok Rokan—hingga saat ini masih menjadi tulang punggung penerimaan Migas di wilayah kerja Sumbagut dan berkontribusi signifikan terhadap produksi nasional.
“Produksi minyak Riau saat ini berada di kisaran 180 ribu barel per hari atau sekitar 30% dari total lifting nasional berdasarkan data tahun 2024,” ujarnya.
Dengan tingkat produksi tersebut, Riau dinilai masih mampu mendukung target nasional produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari, asalkan dilakukan optimasi dan penambahan cadangan secara berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen menjaga produksi, SKK Migas menargetkan pengeboran sekitar 600 sumur di wilayah Riau sepanjang tahun 2025.
Jumlah tersebut menjadikan Riau sebagai provinsi dengan aktivitas pengeboran tertinggi di Indonesia, dengan porsi mencapai sekitar 60% dari total pengeboran nasional.
Dari total 600 sumur yang ditargetkan, sebanyak 560 sumur akan dibor di Blok Rokan, sementara sisanya tersebar di wilayah kerja kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lain seperti EMP Group dan KKKS lainnya.
“Selain pengeboran, kegiatan eksplorasi migas baru di Riau juga terus dilakukan dan SKK Migas memastikan perkembangan setiap kegiatan akan disampaikan secara berkala kepada publik,” ujar Yanin.***









