BERTUAHPOS.COM — Pemerintah Jepang mempertimbangkan pengurangan subsidi bensin mulai Desember 2026 di tengah tingginya harga minyak dunia dan tekanan terhadap anggaran negara.
Rencana tersebut berpotensi mendorong harga bensin eceran naik menjadi sekitar 175 yen per liter pada Desember dan 180 yen pada Januari, sekaligus meningkatkan risiko kenaikan inflasi konsumen.
Para petinggi di Jepang mengungkapkan bahwa pemerintah bersama koalisi penguasa sedang membahas pengurangan subsidi secara bertahap.
Skema yang dipertimbangkan adalah memangkas bantuan mingguan yang selama ini disalurkan kepada distributor bahan bakar untuk menahan harga di tingkat konsumen.
Kebijakan subsidi darurat tersebut mulai diberlakukan pada Maret untuk melindungi rumah tangga dan pelaku usaha dari kenaikan harga minyak setelah perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dimulai. Pemerintah berupaya membatasi dampak lonjakan energi terhadap biaya hidup masyarakat serta pengeluaran bisnis.
Program tersebut membutuhkan biaya beberapa miliar dolar AS setiap bulan. Melalui subsidi itu, pemerintah berupaya menjaga rata-rata harga bensin reguler secara nasional di sekitar 170 yen per liter, setara dengan US$1,09.
Namun, tingginya harga minyak mentah membuat biaya mempertahankan kebijakan tersebut terus membebani keuangan pemerintah. Pengeluaran subsidi juga dengan cepat menggerus anggaran tambahan sebesar 3,1 triliun yen yang telah disetujui pada Juni.
Tekanan anggaran menjadi salah satu alasan pemerintah Jepang mempertimbangkan pengurangan bantuan. Kenaikan harga bahan bakar berpotensi menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat dan pengeluaran perusahaan.*









