BERTUAHPOS.COM — Harga emas melemah pada awal pekan seiring pasar mencerna dampak kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve sejak 2023.
Dilansir dari FXStreet, Selasa, 22 September 2026, tim komoditas ING menyoroti bahwa panduan kebijakan restriktif yang berkepanjangan dari bank sentral Amerika Serikat tersebut turut menekan pergerakan harga logam mulia ini.
Menurut ING, komentar dari para pejabat The Fed memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih tinggi. Kondisi ini mendukung ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi untuk periode yang lebih lama.
Meski demikian, ING menilai kebijakan moneter yang lebih ketat bukan satu-satunya faktor penentu arah harga emas ke depan.
Meskipun kebijakan moneter yang lebih ketat tetap menjadi hambatan bagi emas batangan, kepemilikan ETF berada di level tertinggi enam bulan, dan pembelian bank sentral yang berlanjut seharusnya membantu membatasi sisi negatif.
Kepemilikan Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas yang berada di level tertinggi dalam enam bulan terakhir menjadi salah satu faktor penahan penurunan harga lebih lanjut.
Pembelian berkelanjutan oleh bank sentral berbagai negara juga dinilai turut memberikan dukungan bagi pasar emas.
Di pasar komoditas lain, ING mencatat harga tembaga di London Metal Exchange (LME) bertahan di atas US$14.500 per ton. Kondisi ini didukung oleh tanda-tanda membaiknya permintaan dari Tiongkok.
Premi Yangshan, indikator minat impor tembaga di Tiongkok, naik menjadi US$124 per ton, level tertinggi sejak November 2022.
Sementara itu, produksi domestik Tiongkok tercatat sedikit menurun pada Agustus, menambah sinyal pengetatan pasokan di pasar tembaga global.
Harga tembaga sendiri masih tercatat naik lebih dari 16% sepanjang tahun ini di tengah ketatnya pasokan. Kondisi ini turut dipicu oleh impor Amerika Serikat yang lebih kuat menjelang potensi penerapan tarif tembaga olahan.
ING memproyeksikan pergerakan harga komoditas dalam jangka pendek kemungkinan akan tetap terikat dalam kisaran tertentu.
Risiko pasokan yang membayangi pasar diperkirakan mengimbangi hambatan dari sisi makroekonomi, sementara pelaku pasar masih menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat.







