BERTUAHPOS.COM — Harga emas dunia memasuki Oktober dalam tekanan berat setelah anjlok lebih dari 12% dari level tertinggi yang dicapai pada Agustus.
Analis komoditas menilai ketahanan harga logam mulia ini sedang diuji berat, dengan pelemahan yang sempat mendorongnya ke bawah level US$4.230 per troy ounce, sementara permintaan dari exchange-traded fund (ETF) kini menjadi satu-satunya penyeimbang utama.
Kepala strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyampaikan pandangannya dalam catatan yang dikutip dari Kitco News, Jumat, 2 Oktober 2026.
Ia menyebut pergerakan harga emas di awal pekan mengindikasikan logam mulia tersebut menghadapi ujian yang semakin berat dalam mempertahankan permintaan investasi di tengah tingginya imbal hasil (yield) obligasi.
“Kelemahan ini mencerminkan kombinasi dari lonjakan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, dan aksi jual teknikal setelah penembusan level support yang kemungkinan diperparah oleh aksi ambil untung dari investor di China menjelang musim libur Golden Week,” tulis Hansen dalam catatannya.
Pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, harga emas tercatat naik tipis 0,02% ke level US$4.178,2 per troy ounce.
Meski demikian, kenaikan tipis itu belum cukup mengangkat sentimen pasar yang masih dibayangi lonjakan yield obligasi Treasury AS dan penguatan indeks dolar.
Hansen mencatat bahwa secara historis, kenaikan tajam dalam biaya peluang atau opportunity cost untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas akan menjadi hambatan besar bagi pergerakan harganya.
Faktor ini menjadi salah satu alasan utama di balik koreksi tajam yang terjadi sejak puncak Agustus.
Di tengah tekanan jual yang meluas, permintaan ETF berbasis emas disebut menjadi satu-satunya penopang yang menahan laju pelemahan lebih dalam.
Kondisi ini menunjukkan sebagian investor institusional masih mempertahankan eksposur mereka terhadap logam mulia meski imbal hasil obligasi melonjak.
Dengan kombinasi tekanan dari yield obligasi, penguatan dolar AS, dan aksi ambil untung investor, arah harga emas dalam waktu dekat masih akan sangat bergantung pada perkembangan pasar obligasi serta kebijakan moneter global.









