BERTUAHPOS.COM — Lebih dari 200 hari sejak konflik di Timur Tengah meletus, perbankan negara-negara pasar berkembang terbukti mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global.
Fitch Ratings dalam laporan terbarunya menyampaikan bahwa sistem perbankan di kawasan ini secara umum tetap kokoh menyerap guncangan berupa pertumbuhan melambat, inflasi tinggi, serta kenaikan biaya pinjaman.
Dalam laporan yang dirilis per 30 September 2026, mencatat jumlah peningkatan peringkat kredit bank selama 9 bulan pertama tahun 2026, masih melebihi jumlah penurunan.
Perbaikan terbesar terlihat di Afrika dan Amerika Latin, meskipun laju pertumbuhan peringkat bersih mulai melambat dibandingkan periode sebelumnya.
“Secara keseluruhan, Fitch menilai ketahanan neraca bank dan respons kebijakan yang lebih cepat telah membantu sektor perbankan EM melewati berbagai guncangan pada 2026,” ungkap lembaga itu.
Ketahanan ini ditopang oleh 3 pilar. Bank sentral merespons secara proaktif dengan penyesuaian suku bunga dan dukungan yang tepat sasaran. Posisi fiskal serta cadangan luar negeri pemerintah relatif kuat sebelum guncangan terjadi, terutama di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, kualitas neraca perbankan yang membaik setelah masa pandemi membuat peningkatan kerugian kredit pada awal tahun ini masih dapat dikelola.
Di sisi lain, dampak konflik terasa langsung pada biaya likuiditas yang naik di kawasan Timur Tengah dan Asia-Pasifik, yang kemudian menekan marjin keuntungan perbankan pada semester pertama 2026.
Divergensi antarnegara kian terlihat. Fitch menurunkan prospek sektor perbankan menjadi memburuk bagi Filipina, Sri Lanka, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Turki karena kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lemah, risiko geopolitik, serta tekanan harga.
Sebaliknya, prospek China dan Hong Kong ditingkatkan menjadi stabil, sejalan dengan mayoritas pasar berkembang lainnya.
Tahun depan diproyeksikan membawa perbaikan. Harga minyak diperkirakan turun menjadi rata-rata US$70 per barel dari US$87 pada 2026, sementara suku bunga The Fed diprediksi menetap di 4,25% setelah penyesuaian terakhir pada kuartal IV tahun ini. Kondisi ini diharapkan meringankan beban biaya pinjaman dan meningkatkan daya beli.
Pertumbuhan ekonomi pasar berkembang diproyeksikan tetap kuat di 3,9% pada 2027, jauh melampaui negara maju. Namun risiko penurunan tetap ada, antara lain ketegangan geopolitik, gangguan perdagangan, fluktuasi harga komoditas dan suku bunga, serta dampak perubahan iklim.
“Perbedaan kondisi kredit antarwilayah menjadi semakin nyata, sehingga risiko tidak lagi tersebar secara merata di seluruh pasar emerging market,” tulis Fitch.









