BERTUAHPOS.COM — Bursa Malaysia Derivatives mencatat kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) kembali terkoreksi pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Tekanan datang dari harga minyak mentah global yang melemah dan pasokan stok sawit dalam negeri yang dinilai masih melimpah, sehingga prediksi harga CPO untuk pekan depan masih dibayangi sentimen negatif.
Jim Teh, pedagang senior minyak sawit dari Interband Group of Companies, mengungkapkan penurunan harga minyak mentah baru-baru ini menjadi pemicu utama pelemahan harga CPO. “Harga minyak mentah tercatat turun sekitar US$73 hingga US$74 per barel, sehingga otomatis menekan pasar komoditas sawit,” jelasnya, dikutip dari Bernama, Minggu, 28 Juni 2026.
Menurutnya, tren penurunan harga energi dipastikan akan berlanjut dalam waktu dekat. Di sisi lain, stok minyak sawit di Malaysia diperkirakan mencapai 2,43 juta ton, membuat prediksi harga CPO tertahan di kisaran harga rendah.
Meski harga tengah tertekan, Jim Teh memperkirakan permintaan fisik CPO dari negara pengimpor utama akan mulai meningkat. Negara seperti India, Pakistan, China, Asia Barat, dan Eropa disebutnya akan menjadi penopang permintaan di tengah pasar yang lesu.
Senada dengan Jim Teh, David Ng, pedagang saham independen Iceberg X Sdn Bhd, menilai kontrak berjangka CPO masih berada di bawah tekanan. “Harga tetap tertahan oleh harga minyak mentah dan tren ekonomi global, selain faktor stok yang melimpah,” katanya.
Dia menambahkan, ketidakpastian pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Asia Barat yang mulai mereda. “Oleh karena itu, prediksi harga CPO kami perkirakan akan bergerak di kisaran RM4.450 hingga RM4.650 per ton untuk jangka pendek,” jelas David Ng saat dihubungi.
Data perdagangan menunjukkan harga spot Juli 2026 turun RM90 ke posisi RM4.504 per ton, sementara kontrak Agustus 2026 terpangkas RM83 menjadi RM4.539 per ton. Pergerakan serupa juga terlihat pada kontrak September 2026 yang turun RM78 menjadi RM4.568 per ton, serta harga fisik CPO wilayah Selatan yang melemah RM30 ke RM4.530 per ton.
Mengacu pada data perdagangan, David Ng menambahkan bahwa kontrak berjangka Oktober hingga Desember 2026 masing-masing turun RM77 hingga RM79, dengan posisi terakhir di RM4.631 per ton. “Volume perdagangan yang melonjak hingga 424.149 lot pekan ini menandakan pelaku pasar masih aktif melakukan transaksi di tengah koreksi harga, meski open interest menyusut menjadi 284.997 kontrak,” katanya.









