• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 8, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Subsektor Hortikultura dan Perkebunan Rakyat Jadi Pendorong Utama Nilai Tukar Petani Riau

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
7 Juni 2026
Apa yang Dilakukan Pemprov Riau untuk Tekan Inflasi Akibat Tingginya Harga Cabai Merah?

Petani panen cabai di kebun | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

192
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM — Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Riau pada Mei 2026 tercatat sebesar 207,41 atau naik 0,59 persen dibandingkan April 2026 yang berada di angka 206,19.

Kenaikan NTP ini didorong oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 1,65 persen, tumbuh lebih cepat dibandingkan Indeks Harga yang Dibayar Petani yang naik 1,06 persen.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, di Pekanbaru. “NTP kita bulan ini naik tipis, tapi tetap positif. Artinya, daya beli petani masih terjaga karena harga yang mereka terima tumbuh lebih cepat dari harga yang harus mereka bayar,” ujarnya.

Kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) terjadi merata di seluruh subsektor penyusun NTP. Peningkatan It terbesar dicatat oleh subsektor hortikultura sebesar 2,46 persen, diikuti subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,72 persen, tanaman pangan sebesar 0,78 persen, peternakan sebesar 0,42 persen, dan perikanan sebesar 0,33 persen.

Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga mengalami kenaikan di semua subsektor. Kenaikan Ib terbesar terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,19 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat 1,09 persen, perikanan 0,86 persen, hortikultura 0,84 persen, dan peternakan 0,75 persen.

Dari lima subsektor penyusun NTP, hanya dua subsektor yang mencatat kenaikan pada Mei 2026. Subsektor hortikultura memimpin dengan kenaikan 1,61 persen, dari 102,34 pada April 2026 menjadi 103,99 pada Mei 2026, diikuti subsektor tanaman perkebunan rakyat yang naik 0,63 persen, dari 228,94 menjadi 230,38.

Tiga subsektor lainnya justru mengalami penurunan NTP. Subsektor perikanan turun 0,52 persen menjadi 107,82, subsektor tanaman pangan turun 0,40 persen menjadi 96,38, dan subsektor peternakan turun 0,33 persen menjadi 97,64.

NTP Tanaman Pangan (NTPP) mengalami penurunan 0,40 persen, dari 96,77 pada April 2026 menjadi 96,38 pada Mei 2026. Meski It naik 0,78 persen didorong oleh kelompok palawija (terutama ketela pohon dan kacang tanah) sebesar 1,34 persen serta kelompok padi 0,61 persen, kenaikan tersebut tidak mampu mengimbangi laju Ib yang naik lebih tinggi sebesar 1,19 persen.

“Kenaikan Ib pada subsektor ini terutama bersumber dari meningkatnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,92 persen, khususnya pada komoditas cabai merah, bawang merah, kembung, cabai rawit, dan bensin. Selain itu, indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) juga melonjak 1,97 persen, terutama akibat kenaikan harga urea, TSP/SP 36, bibit padi, serta upah pemanenan dan penanaman,” jelasnya.

NTP Hortikultura (NTPH) mencatat kenaikan terbesar di antara semua subsektor, yaitu 1,61 persen, dari 102,34 menjadi 103,99. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga sayur-sayuran sebesar 5,72 persen, terutama cabai merah, cabai rawit, dan sawi hijau, serta kelompok tanaman obat sebesar 1,12 persen yang meliputi jeruk nipis, jahe, dan lengkuas.

“Di sisi pengeluaran, Ib hortikultura naik 0,84 persen akibat naiknya indeks konsumsi rumah tangga 0,83 persen dan indeks BPPBM 0,87 persen. Kenaikan BPPBM ini terutama dipicu oleh plastik transparan/mulsa, urea, dan bensin,” kata Asep.

NTP Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) naik 0,63 persen, dari 228,94 menjadi 230,38, berkat kenaikan harga kelapa sawit dan karet yang mendorong It subsektor ini naik 1,72 persen.

Di sisi lain, Ib juga turut meningkat 1,09 persen, terutama didorong oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga 0,88 persen serta BPPBM sebesar 1,62 persen yang dipengaruhi upah panen, urea, dan Kalium Chloride (KCL).

NTP Peternakan (NTPT) turun 0,33 persen, dari 97,96 menjadi 97,64. Meskipun It naik 0,42 persen—didukung oleh kenaikan harga ternak besar seperti sapi potong dan kerbau sebesar 2,00 persen, hasil ternak (telur itik/bebek dan telur ayam kampung) sebesar 1,58 persen, dan ternak kecil (kambing) 1,25 persen—penurunan harga unggas sebesar 1,07 persen menekan kenaikan keseluruhan It.

Asep menyebut, Ib subsektor peternakan naik 0,75 persen karena indeks konsumsi rumah tangga meningkat 0,94 persen, sedangkan indeks BPPBM naik lebih moderat sebesar 0,49 persen, terutama karena harga pakan ternak seperti pur, dedak, dan broiler starter.

NTP Perikanan (NTNP) turun 0,52 persen dari 108,39 menjadi 107,82, dengan kenaikan It hanya 0,33 persen tidak mampu mengimbangi kenaikan Ib sebesar 0,86 persen. Nilai Tukar Nelayan (NTN) turun lebih dalam, yakni 0,69 persen dari 109,02 menjadi 108,27, karena harga penangkapan laut justru turun 0,40 persen meski penangkapan di perairan umum naik 0,92 persen.

Sementara itu, Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) hanya naik tipis 0,02 persen dari 106,40 menjadi 106,42. Kenaikan It budidaya air tawar sebesar 1,21 persen—terutama ikan patin, lele, dan mas/karper—hampir sepenuhnya terserap oleh kenaikan Ib sebesar 1,14 persen yang dipicu kenaikan harga pelet, benih mas/karper, dedak, dan bensin.

“Dalam perbandingan NTP antarprovinsi di Pulau Sumatera, Riau kembali menduduki posisi teratas dengan NTP sebesar 207,41 pada Mei 2026. Posisi kedua ditempati Bengkulu dengan NTP 201,95, disusul Jambi dengan NTP 186,71, sementara NTP terkecil se-Sumatera dimiliki Kepulauan Riau dengan nilai 107,40,” ujarnya.

Dari 10 provinsi di Pulau Sumatera, 8 provinsi mencatat kenaikan NTP pada Mei 2026. Kenaikan tertinggi diraih Sumatera Selatan sebesar 6,61 persen, diikuti Sumatera Barat 3,93 persen, Lampung 3,29 persen, Kepulauan Bangka Belitung 2,08 persen, Jambi 1,58 persen, Kepulauan Riau 1,05 persen, Riau 0,59 persen, dan Aceh 0,54 persen. Dua provinsi yang mengalami penurunan adalah Sumatera Utara dengan penurunan terdalam 1,56 persen dan Bengkulu 0,02 persen.

Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petanian di Provinsi Riau pada Mei 2026 naik 0,88 persen. Kenaikan ini dipimpin oleh kelompok makanan dan minuman sebesar 1,28 persen, diikuti kelompok transportasi 0,77 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar lainnya 0,36 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,34 persen, serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,17 persen.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,13 persen, kelompok pakaian dan alas kaki serta kesehatan masing-masing 0,12 persen, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,11 persen. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami penurunan sebesar 0,28 persen, sedangkan kelompok pendidikan cenderung stagnan dengan indeks tetap di 103,50.

Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Provinsi Riau pada Mei 2026 naik tipis 0,12 persen, dari 201,64 menjadi 201,88. Kenaikan ini terjadi karena It meningkat 1,65 persen sementara indeks BPPBM naik 1,54 persen.

“Dari sisi subsektor, NTUP hortikultura naik paling tinggi sebesar 1,58 persen, diikuti tanaman perkebunan rakyat 0,10 persen. Sebaliknya, tanaman pangan mengalami penurunan NTUP terdalam sebesar 1,16 persen, diikuti perikanan 0,63 persen (tangkap turun 0,77 persen, budidaya turun 0,19 persen), dan peternakan 0,07 persen,” ujarnya.

Tags: bpsekonominilai tukar petani
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Harga CPO Pekan Ini Diproyeksi Tertekan akibat Stok Melimpah
Ekonomi

Harga CPO Pekan Ini Diproyeksi Tertekan akibat Stok Melimpah

...

Read moreDetails
Dokter Minta Keringanan Pajak, IDI Usul PPh Final Maksimal 1%

Dokter Minta Keringanan Pajak, IDI Usul PPh Final Maksimal 1%

13 BPR Ditutup OJK Sepanjang 2026, LPS Siapkan Skema Penjaminan

13 BPR Ditutup OJK Sepanjang 2026, LPS Siapkan Skema Penjaminan

Proyeksi Inflasi 2026 Capai 3,13%, El Nino Godzilla Jadi Risiko Terbesar

Proyeksi Inflasi 2026 Capai 3,13%, El Nino Godzilla Jadi Risiko Terbesar

Alasan Mengapa Tiga Komoditas Ekspor Senilai Lebih Rp1,2 Triliun Dipelototi DSI

Alasan Mengapa Tiga Komoditas Ekspor Senilai Lebih Rp1,2 Triliun Dipelototi DSI

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Ekonomi di Tengah Tekanan Lingkungan

Next Post
HMI Cabang Pekanbaru Resmi Dilantik, Usung Manifesto Gerakan Bangun Episentrum Peradaban

HMI Cabang Pekanbaru Resmi Dilantik, Usung Manifesto Gerakan Bangun Episentrum Peradaban

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.